Transaksi QRIS Tak Laku di Pasar Rakyat, Ini Alasannya!

Jakarta, PONTAS.id – Indonesia telah memasuki industri 4.O. Pasar Tradisional yang dahulu hanya bisa bertransaksi menggunakan uang kertas kini bisa menggunakan metode pembayaran modern seperti Quick Response Indonesia Standard (QRIS).

QRIS yang diluncurkan oleh Bank Indonesia (BI) digadang-gadang bisa memberikan kontribusi terhadap perkembangan ekonomi digital Indonesia. Namun tak bisa dipungkiri, penerapan QRIS masih menghadapi sejumlah tantangan di berbagai pasar tradisional seperti di Pasar Pulogadung Jakarta Timur.

Penggunaan sistem barcode itu tak laku di pasar rakyat yang notabenenya konsumennya berasal dari kalangan menengah ke bawah dan bukan generasi milenial. Hal itu diungkapkan oleh Warsiti, seorang pedagang di Pasar Pulogadung yang menjual alat tulis kantor dan juga menjual seragam sekolah. Menurutnya, sistem QRIS sangat kurang peminatnya.

“Kami menyediakan berbagai macam alat untuk bertransaksi demi memudahkan pelanggan dalam melakukan pembayaran mulai dari transfer ke rekening, mesin EDC dan juga QRIS. Namun di sini transaksi menggunakan QRIS sangat jarang terjadi lantaran konsumen banyak yang tidak paham. Mereka yang datang kebanyakan sudah berumur jadi kurang melek teknologi,” ujarnya kepada PONTAS.id saat ditemui pada Kamis sore (8/9/22)

Menanggapi hal ini, Kepala Pasar Pulogadung Andy Budhi membenarkan bahwa transaksi sistem barcode itu memang kurang diminati oleh para konsumen. Padahal pihaknya bersama pihak bank sudah melakukan sosialisasi sejak jauh hari terkait dengan penggunaan pembayaran sistem QRIS tersebut.

“Prinsipnya apapun langkah pemerintah yang bisa memudahkan layanan untuk bertransaksi pasti kami dukung. Bahkan, sejak awal diluncurkannya QRIS oleh BI, Bank BUMN maupun BUMD telah door to door ke pedagang untuk menyosialisasikannya,” ungkap Andy Budhi

Ia mengatakan sebenarnya transaksi menggunakan QRIS sangat mudah dilakukan terlebih di masa pandemi seperti ini, selain lebih ringkas bisa untuk meminimalisir terjadinya penularan virus Corona lantaran pembeli dan penjual tak perlu melakukan kontak langsung seperti transaksi tradisional yang memerlukan uang kembalian.

“Memang antusias dari masyarakat menggunakan metode QRIS untuk berbelanja di Pasar kita ini belum maksimal. Tapi pada intinya, kami sebagai pengelola telah menyediakan fasilitas untuk menggunakannya. Namun mayoritas masih berbelanja menggunakan uang Cash,” tutupnya

Penulis: Rahmat Mauliady

Editor: Fajar Virgiawan Cahya

 

 

 

 

 

Previous articleBerantas Mafia Tanah Libatkan Korporasi Besar
Next articleImbas BBM Naik, Harga Cabai di Pasar Tradisional Jakarta Tembus 90 Ribu Per/Kg