
Jakarta, PONTAS.ID – Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (PRKP) DKI Jakarta, Sarjoko mendadak bungkam terkait perkembangan dugaan penggelembungan (mark-up) nilai proyek pembuatan 10 gazebo di Kepulauan Seribu.
Hingga berita ini dipublikasikan, Sarjoko yang sebelumnya berjanji akan memanggil Kasudin PRKP Kepualauan Seribu, tak kunjung merespon pertanyaan yang disampaikan melalui ponselnya maupun melalui aplikasi perpesanan WhatsApp.
“Tidak ada pejabat di tempat dan banyak yang sudah cuti,” kata petugas keamanaan kepada PONTAS.id, setelah mendatangi sebanyak dua kali ke Kantor Dinas PRKP, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (29/12/2022).
Tak hanya mark-up, dari hasil penelusuran, proyek ini juga dikerjakan oleh perusahaan yang diduga fiktif lantaran menggunakan alamat salah satu warung makan. “Alamatnya benar, tapi bukan di sini kantornya, tapi di depan. Orangnya jarang ke sini,” ujar pemilik warung saat ditemui, Senin (12/12/2022).
Merujuk laman resmi sistem pengadaan elektronik DKI Jakarta, proyek ini dikerjakan PT. Cipta Muda Niagara beralamat di Jl. Manunggal I No. 19 RT.011/ RW.006, Kel. Cipinang Melayu, Kec. Makasar, Jakarta Timur dengan nilai kontrak Rp802 juta lebih.
Sebelumnya, dari berbagai informasi yang berhasil dihimpun, gazebo dengan ukuran 3×4 meter berbahan kayu kelapa dibanderol bervariasi antara Rp18 hingga Rp25 juta per-unitnya.
Sementara, biaya pengiriman barang seberat 15 ton menggunakan kapal laut dibanderol Rp10 hingga Rp15 juta. “Bervariasi, paling tinggi Rp15 juta untuk muatan 15 ton,” kata salah seorang pemilik kapal di Muara Angke, Jakarta Utara, Rabu (14/12/2022).
Sebagai informasi, proyek pengadaan Gazebo di kepulauan Tidung dan Sabira ini memunculkan tanda tanya lantaran informasi yang disampaikan Kasudin PRKP Kabupaten Kepulauan Seribu, Darnawati dengan Kepala Seksi Perencanaan Sudin PRKP Kepulauan Seribu, Mulyadi, berbeda.
Menurut Darnawati, 10 unit Gazebo. Di antaranya 4 unit di pulau Tidung dengan bahan kayu kelapa dan 6 unit dengan bahan beton di pulau Sabira. “Bukan semua berbahan kayu kelapa,” ungkapnya.
Darnawati menambahkan, 6 unit Gazebo di pulau Sabira menggunakan bahan beton, karna permintaan masyarakat pulau Sabira. “Kalau kita tidak mau mengikuti permintaan masyarakat, artinya kita tidak melaksanakan apa aspirasi masyarakat itu,” ujarnya.
Sementara, Mulyadi kepada beritajakarta.id mengatakan 10 unit Gazebo di pulau Tidung dan Sabira menggunakan kayu kelapa. “Pembangunan Gazebo dilakukan sejak bulan September 2022. Gazebo dengan ukuran 3×3 meter menggunakan material kayu kelapa,” jelas Mulyadi di berita itu, Senin (5/12/2022).
Belakangan, Mulyadi menjelaskan, terkait dengan bahan material beton di pulau Sabira, terjadi lantaran dirinya salah pengertian.
“Kemaren itu tim berita Jakarta tanya saya melalui WhatsApp saja, saya pikir itu hanya fokus di pulau Tidung saja, tahunya semua. Saya sudah konfirmasi ke berita Jakarta, untuk di ubah, tapi kata mereka tidak apa – apa,” ujarnya.
Terkait dugaan penggelembungan harga, Darnawati Sembiring membantah dirinya melakukan mark-up, “Cuman 800 juta pak, saya pertaruhkan jabatan, mana mau saya! Gakmungkin saya melakukan seperti itu, gak lah, saya jauh dari itu, tegasnya saat ditemui PONTAS.id di ruangannya, Kamis (15/12/2022) sore.
Ia juga mengatakan proyek pengadaan Gazebo dari awal sampai akhir di awasi oleh inspektorat DKI Jakarta.”Bahkan saya dapat sertifikat dari inspektorat DKI Jakarta,” tutupnya.
Penulis: Yos Casa Nova F
Editor: Pahala Simanjuntak



























