Ini Penyebab Pasar Jaya Dinilai Gagal Urus JakGrosir

Kantor Pusat JakGrosir, Kramat Jati, Jakarta Timur

Jakarta, PONTAS.ID – PD Pasar Jaya (PDPJ) dinilai gagal mengelola JakGrosir dan JakMart lantaran tidak memberikan manfaat bagi pedagang di pasar-pasar yang dikelola BUMD DKI tersebut. Sebab, dalam perjalanannya, JakGrosir yang menjadi induk JakMart tidak diminati pedagang.

“Data yang saya miliki, 90 persen omsetnya hanya dari penjualan daging murah kepada pemilik KJP (Kartu Jakarta Pintar). Sisanya dari pedagang biasa. Jadi kalau biacara untung saya tidak yakin, kalau merugi kemungkinan besar iya,” jelas salah satu sumber dekat PONTAS.id di PD Pasar Jaya wilayah Jakarta Utara, Kamis (14/12/2017).

Menurutnya, pembentukan JakGrosir sejak awal tidak direncanakan dengan matang dan dilakukan hanya demi memuaskan keinginan Gubernur DKI Jakarta ketika itu, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

“Kalau memang ingin memuaskan keinginan Gubernur, harusnya PD Pasar melakukan riset serta perencanaan yang  matang, sehingga pendirian JakGrosir tepat sasaran. Kalau begini kinerjanya, saya yakin keuangan PD Pasar Jaya juga pasti terganggu,” tutup sumber.

Sepi Pembeli

Outlet JakMart, Pasar Glodok, Jakarta Barat

Pantauan PONTAS.id, selain Jakgrosir, JakMart di Pasar Glodok, Jakarta Barat yang menyediakan kebutuhan pokok eceran bersubsidi pun sepi dari pembeli.  Waralaba yang merupakan outlet JakGrosir tersebut hanya dikunjungi pembeli tidak lebih dari 15 orang setiap harinya. “Di sini (Jakmart Pasar Glodok) pembelinya masih sepi, padahal harga-harga yang dijual murah,” kata pegawai Jakmart, Didin Cahyadi, Selasa (12/12/2017) lalu.

Didin mencontohkan, jika di pasaran harga daging sapi beku seharga Rp 85.000, di Jakmart bisa dijual seharga Rp 80.000.

Agung Saswito, pedagang penjual barang kebutuhan pokok mengatakan, informasi terkait murahnya harga barang-barang belum sampai kabarnya kepada dirinya.  “Saya tahu ada toko itu (JakMart), tapi tidak tahu kalau harganya murah. Sampai sekarang kalau saya mau belanja di tempat langganan di tempat grosir,” ucap pria yang sudah membuka warungnya lebih dari 10 tahun di Pasar Glodok.

Lain hal dengan Prasetio, pedagang ini tahu akan keberadaan Jakmart dengan harga murah. Tapi, dirinya hanya mengetahui jika membeli disana menggunakan kartu. “Mau beli disana kan harus pakai kartu mas dan saya nggak punya kartu itu. Jadi, kalau mau beli barang-barang, di tempat langganan grosir,” kata Prasetio.

Minim Peminat

Demikian halnya di pusat JakGrosir, Kramat Jati, Jakarta Timur, hanya dikunjungi pembeli tidak lebih dari 30 pengunjung setiap harinya.  “Barang-barang di JakGrosir lengkap, tapi tidak tahu kenapa sepi pembeli. Atau mungkin kurang informasi ke masyarakat terkait adanya Jakgrosir,” ujar pegawai JakGrosir yang tidak mau disebut namanya menjawab pertanyaan PONTAS.id pekan lalu di Kramat Jati.

Ia menjelaskan, JakGrosir disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pedagang akan bahan pokok yang murah dan berkualitas dibandingkan pasar modern.  “Harga di JakGrosir murah jika dibandingan dengan pasar-pasar modern yang ada. Tapi, sejak diresmikan hingga sekarang masih sepi,” ungkapnya.

Tidak Ada Kendala

Terpisah, PD Pasar mengaku saat ini masih terus melakukan sosialiasi kepada para pedagang di pasar-pasar yang dikelola PD Pasar Jaya, “Masih sosialisasi, dan saat ini PD Pasar sudah membagikan kartu keanggotaan kepada 8.000 pedagang dan masih terus dilanjutkan,” jelas Kepala Humas PD Pasar Jaya, Muhammad Fahri ketika dihubungi PONTAS.id, Kamis (14/12/2017).

Fahri menegaskan, hingga saat ini pihaknya tidak mengalami kendala dalam mengelola JakGrosir serta JakMart. Terkait omset dari JakGrosir dan JakMart, Fahri belum dapat menjawab, “Saya belum dapat menjawab. Karena belum mendapatkan update terakhir,” kata dia.

Penulis: Hendrik/Chairul

Editor: Hendrik JS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here