Jakarta, PONTAS.ID – Majlis Syi’arul Muslimin DKI Jakarta memaklumi penolakan berbagai kelompok masyarakat soal kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam memilih Wali Kota Jakarta. Pasalnya, Anies dinilai tidak pernah memperhatikan warga Jakarta Utara yang membutuhkan pemimpin merakyat.
“Idealnya memang Wali Kota itu harus berpengalaman sebagai pamong, baik sebagai Lurah maupun Camat di Jakarta Utara. Dan harus memahami kondisi riil di lapangan serta merupakan pejabat yang memiliki rekam jejak yang baik di Jakarta Utara,” kata ketua Majlis Syi’arul Muslimin DKI Jakarta, Syukri M. Nawawi, saat dimintai tanggapannya oleh wartawan, di Tanjung Priok, Kamis (22/8/2019).
Syukri menambahkan, pihaknya bukan menuntut sesuatu dari Anies, meskipun sejak awal tahapan kampanye Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu, organisasinya merupakan relawan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno (Anies-Sandi) ketika itu.
Namun, jabatan Wali Kota Jakarta Utara harus diisi sosok yang memahami demografi serta kultur budaya yang begitu beragam di wilayah yang berada di kawasan pesisir Ibu Kota tersebut, “Sehingga paham apa-apa saja yang harus dikerjakan berdasarkan skala prioritas,” kata Syukri.
Terlebih dengan enam anggota Dewan Kota Jakarta Utara 2019-2024 yang baru dikukuhkan merupakan tokoh-tokoh muda Jakarta Utara yang dikenal kritis dan enerjik, harus diimbangi dengan pejabat yang juga enerjik dan mampu menjawab berbagai tantangan sosial politik di akar rumput.
“Sehingga sinergi lintas sektoralnya terbangun dengan baik,” pungkas Syukri.
Dalam kesempatan tersebut, Yusron Efendi, tokoh dari buruh pelabuhan Tanjung Priok dn juga mantan Ketua RW.15 kelurahan Semper Barat, setuju dengan tanggapan Syukri.
Sebab, dalam berbagai kebijakannya selama menjadi Gubernur DKI Jakarta, Anies dinilai tidak pernah memperhatikan aspirasi warga Jakarta Utara.
“Contohnya, soal reklamasi, stadion Taman BMW dan Kampung Akuarium, Anies tidak melibatkan warga yang benar-benar hidup dan berkarya di Jakarta Utara. Anies lebih memilih orang-orang tertentu yang pada dasarnya merupakan mantan warga Jakarta Utara,” kata Yusron.
Permasalahan berikutnya terkait kemacetan berkepanjangan serta semrawutnya transportasi yang kerap menjadi mimpi buruk bagi warga Jakarta Utara. Menurutnya, sudah setahun lebih permasalahan tersebut intens dibahas namun belum juga menampakkan hasil.
“Jadi kalau pak Gubernur tidak mendengar aspirasi warga ini, saya yakin dan percaya, permasalahan-permasalahan yang ada saat ini akan terus dirasakan warga Jakarta Utara karena pemimpinnya juga bukan orang yang paham dengan karakter Jakarta Utara,” pungkasnya.
Penulis: Edi Prayitno
Editor: Idul HM




























Udah banyak juga kok but jakarta utara dan pasti melibatkan warga setempat. Mosok ga kerasa n kelihat? Ini pake kacamata investasi sptnya 🙂 ga ada tuh asal tunjuk, kalo memang pejuang pastinya tanpa pamrih kan….?