Tutup Situs Pers Mahasiswa, AJI Medan Kecam Rektorat USU

Jakarta, PONTAS.ID – Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Medan, Liston Damanik menolak tindakan pencabutan sepihak yang dilakukan pihak rektorat Universitas Sumatera Utara (USU) terhadap sebuah karya fiksi yang terbit di media kampus.

“Tindakan tersebut sewenang-wenang dan inkonstitusional karena tidak sejalan dengan nilai-nilai demokrasi dan hak kebebasan berekspresi yang dijamin UUD 1945 28 E ayat (2) yang harus dimiliki semua orang tanpa terkecuali,” kata Liston dalam keterangan resminya yang dikonfirmasi PONTAS.id, Sabtu (23/3/2019).

Sikap ini disampaikan pihak AJI Medan, lantaran pada Rabu sekitar pukul 09.00 WIB, situs pers mahasiswa USU, suarausu.co tidak bisa diakses dan diblokir.

“AJI Medan menolak pencabutan penerbitan Suara USU sebagai Persma yang sudah berdiri sejak 1 Juli 1995 dan sampai saat ini merupakan satu-satunya UKM yang mengelola bidang penerbitan dan pers di USU,” kata Liston.

Pihaknya lanjut Liston, meminta agar perkara ini diselesaikan segera dan situs suarausu.co kembali bisa diakses.

AJI juga mengingatkan rektorat USU berpedoman pada UU No.12 Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi yang mengatur penyelenggaraan universitas dilaksanakan dengan prinsip demokratis dan berkeadilan, “Serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai agama, nilai budaya, kemajemukan, persatuan dan kesatuan bangsa,” tegasnya.

AJI Medan berharap, pemadaman situs seperti ini tidak terulang kembali serta mendesak Dewan Pers turut andil dalam penyelesaian kasus ini mengingat Persma termasuk dalam kuadran ke dua yang merupakan pengelompokan media yang
tak terverifikasi di Dewan Pers, namun isi beritanya memenuhi standar jurnalistik dan Kode Etik Jurnalistik (positif dan terpercaya).

Sebelumnya, situs berita pers mahasiswa suarausu.co tidak bisa diakses sejak Rabu pagi, 20 Maret 2019. Dalam wawancaranya dengan Tempo pada Kamis, (21/3/2019), Rektor Universitas Sumatera Utara Prof Runtung Sitepu mengkonfirmasi bahwa pihak rektorat yang memadamkan situs tersebut.

Rektor bahkan menyebutkan akan mencabut SK penerbitan Suara USU karena muatannya dianggap tidak mencerminkan visi misi USU. Muatan yang ia maksud adalah sebuah cerita pendek berjudul “Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya” yang dianggap terlalu vulgar karena mengandung kata ‘sperma’ dan dianggap mempromosikan LGBT.

Awalnya, cerpen yang ditulis oleh Yael Stefani Sinaga itu naik di situs suarausu.co pada Selasa, 12 Maret 2019 dan tidak menimbulkan masalah. Namun, enam jam setelah diunggah di media sosial Instagram @suarausu pada Senin (18/3/2019), cerpen itu mendapat komentar bernada penolakan dari warganet.

“Selasa (19/3/2019) kami dipanggil untuk menjumpai staf Majelis Wali Amanat. Dalam pertemuan itu, aku dan Widya, pemred Suara USU, diminta untuk mencabut cerpen itu.” ujar Yael pada AJI Medan (22/3/2019) saat dihubungi melalui telepon.

Meski didesak, Yael dan Widya yakin tidak ada yang salah dalam konten tersebut. Yael menyampaikan bahwa cerpen yang ia buat hanya untuk menggambarkan diskriminasi yang diterima kelompok minoritas. Hingga Selasa malam, pengurus persma tetap tidak mencabut cerpennya, hingga berujung pada pencabutan suara.co

Namun, dari pantauan PONTAS.id, pada jam 11.24 WIB, Sabtu (23/3/2019) cerita pendek berjudul “Ketika Semua Menolak Kehadiran Diriku di Dekatnya” sudah kembali dapat diakses.

Penulis: Pahala Simanjuntak
Editor: Hendrik JS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here