
PATI, PONTAS.ID – Tangis Guru PAUD pecah saat mengungkap gaji Rp300 ribu dan status honorer tanpa kepastian di hadapan Wakil Ketua Fraksi Golkar MPR, Firman Soebagyo.
Dalam kegiatan ASMASI 4 Pilar MPR RI di Aula Gedung PGRI Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati, para Guru PAUD mengungkap kerasnya perjuangan mereka. Salah satunya, gaji yang hanya sekitar Rp300 ribu, status honorer tanpa kepastian, serta minimnya sarana dan prasarana.
Suasana aula mendadak hening ketika Ketua HIMPAUDI Kabupaten Pati menyampaikan satu per satu persoalan yang selama ini dihadapi para Guru PAUD. Di tengah suasana haru itu, Firman Soebagyo berdiri dan menghampiri para guru.
“Saya bangga menjadi wakil rakyat karena selalu dekat dengan mereka yang masih menderita. Hari ini saya melihat sendiri perjuangan Ibu-ibu Guru PAUD. 20 tahun mengabdi, tapi masih banyak yang dilupakan,” kata Firman Soebagyo, Selasa (11/8/2026).
Menurut Firman, kondisi tersebut tidak boleh terus dibiarkan. Guru PAUD merupakan bagian penting dalam membangun fondasi sumber daya manusia, tetapi justru masih menghadapi persoalan mendasar terkait pendapatan, status kepegawaian, dan perlindungan sosial.
Politisi asal Pati itu memastikan aspirasi Guru PAUD akan terus dibawa ke tingkat nasional. Firman menyebut Fraksi Golkar DPR RI bersama HIMPAUDI tengah mengawal perjuangan agar pendidikan PAUD mendapat penguatan dalam revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).
“Ini bukan janji. Ini proses legislasi yang sedang berjalan. Tangis Ibu-ibu hari ini adalah bukti bahwa negara mulai hadir untuk PAUD,” tegasnya.
Firman menyebut pembahasan RUU Sisdiknas di Komisi X DPR RI menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkuat posisi PAUD sekaligus memperjuangkan kepastian bagi para pendidiknya. Ia kemudian menyampaikan tiga komitmen yang akan didorong.
Pertama, mendorong skema insentif nasional dan afirmasi PPPK khusus Guru PAUD. Kedua, mengawal peningkatan Dana BOS PAUD dan BOP agar tepat sasaran. Ketiga, memastikan Guru PAUD masuk dalam sistem jaminan sosial.
“Kalau PAUD kuat, maka Indonesia Emas 2045 bisa kita wujudkan. Karena Guru PAUD adalah pahlawan 1.000 hari pertama anak bangsa,” ujarnya.
Ratusan Guru PAUD se-Kabupaten Pati yang hadir dalam kegiatan tersebut berharap perjuangan mereka tidak berhenti sebagai aspirasi yang didengar sesaat.
Mereka menuntut negara tak hanya berbicara tentang pentingnya pendidikan anak usia dini, tetapi juga memastikan para guru yang berada di garis depan pendidikan tersebut memperoleh penghasilan layak, kepastian status, dan perlindungan sosial.
Sebab, di balik jargon pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045, masih ada guru yang telah mengabdi puluhan tahun dan harus bertahan dengan penghasilan sekitar Rp300 ribu


























