Kepsek SMAN 43 Bantah Selewengkan Dana BOS, Begini Faktanya

Jakarta, PONTAS.ID – Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 43 Jakarta membantah telah menyelewengkan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) baik Tahun Anggaran 2020 maupun 2021.

“Apa yang kami ajukan sesuai fakta dan barang nya sesuai. Kami tidak mungkin makan uang negara! Kalau lebih pasti kami kembalikan,” ucap, Kepala Sekolah SMAN 43 Jakarta, Tjahyani, kepada PONTAS.id di ruangannya, Selasa (27/4/2021).

Hal ini ditegaskan Tjahyani menyusul tudingan manipulasi laporan dan pengadaan fiktif yang diduga dilakukan oleh pihaknya. “Saya siap bertanggungjawab, tidak ada manipulasi maupun pengadaan fiktif!” tegasnya.

Berdasarkan Laporan Pertanggungjawaban pengadaan laptop yang didapat PONTAS.id, sekolah yang berada di Jln. Minangkabau Dalam, Kelurahan Menteng Atas, Jakarta Selatan itu, SMAN 43 pada tahun 2020 membeli satu unit Laptop Asus A409J seharga Rp.13.629.000.

Namun, setelah dilakukan pengecekan ke penjualan resmi, laptop dengan tipe yang sama dibanderol Rp.8.200.000, sehingga memunculkan selisih Rp.5.429.000.

Kejadian yang sama juga terjadi pada tahun 2021, saat membeli satu unit printer HP LaserJet MFP 137fnw dibeli dengan harga Rp.3.465.000 juga muncul selisih sebesar Rp.1.050.00 berdasarkan harga di toko penjualan resmi yang mematok harga Rp.2.415.000 per-unitnya.

Kejanggalan lainnya pada tahun 2020, biaya pembuatan kolam ikan sebesar Rp.45.540.000. Sementara dari perhitungan pemborong taman dan kolam hias, biaya pembuatannya hanya membutuhkan Rp.680.000 per meter termasuk dengan tanaman serta batu alam.

Jika dihitung dengan luas 5 meter x 5 meter (25 meter persegi), kolam ikan hias hanya membutuhkan Rp.17.000.000. Namun, hal ini langsung diralat oleh Tjahyani, “Itu bukan untuk taman, tapi untuk membeli kursi dan meja,” kata dia meralat pernyataan dirinya yang disampaikan sebelumnya.

Dari informasi dan data yang didapat PONTAS.id, pada tahun 2020, SMAN 43, juga melakukan pemeliharaan panel kusen dan pintu ruang belajar lantai 4 sebesar Rp.21.567.700.

Kemudian pemeliharaan sarana dan prasarana dinding tembok ruang audio visual sebesar Rp.49.599.000. Ditambah, pemeliharaan ruang studio musik sebesar 48.746.500.

Pihak sekolah juga melakukan pemeliharaan atap kanopi penghubung ke masjid dan meja guru piket sebesar Rp.20.194.800.

Di tahun yang sama SMAN 43 melakukan perawatan dan pemeliharaan wastafel di lantai 3 yang menelan anggaran Rp.10.706.000. Pihak sekolah juga melakukan pengecatan bangunan sekolah sebesar Rp.47.361.600.

Hak Peserta Didik
Sebelumnya, Koalisi Masyarakat Pemerhati Anggaran dan Pembangunan Jakarta (Komander) meminta Kejaksaan mengusut praktik dugaan pembelian fiktif dan manipulasi laporan penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di sekolah-sekolah yang ada di DKI Jakarta.

Sebab, Dana BOS merupakan hak dari peserta didik yang disalurkan melalui sekolah menggunakan anggaran negara yang merupakan uang rakyat.

“Kejaksaan harus turun, karena kalau terbukti dugaan manipulasi laporan dan pembelian fiktif, artinya, triliunan rupiah bantuan yang diberikan Pemerintah Pusat menjadi sia-sia. Malah yang menikmati oknum-oknum tertentu!” tegas Direktur Eksekutif Komander, Yoga Pangestu saat ditemui PONTAS.id, di kawasan kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, Selasa (27/4/2021)

Penyaluran Dana BOS, kata Yoga, seharusnya dapat meningkatkan mutu sarana dan prasaran pendidikan yang berdampak secara langsung terhadap kualitas peserta didik, khususnya menghadapi Era Industri 4.0, di mana kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) menjadi salah satu modal untuk dapat bersaing hingga ke tingkat dunia.

“Tapi kalau dilaksanakan dengan perilaku-perilaku koruptif, rencana bagus pemerintah ini akan kandas, SDM kita akan kembali dari negara-negara lain. Itu sebabnya saya minta Kejaksaan segera mendalami hal ini, jangan sampai momen memanfaatkan ‘Bonus Demografi’ Indonesia malah berantakan,” katanya.

“Bila perlu akan kami yang akan melaporkan ke Kejaksaan, agar semua taat dan patuh dengan aturan dalam mengelola Dana Bos. Ini uang rakyat!” tegasnya.

Penulis: M. Abdi Nurroin /Heru Mindarto
Editor: Pahala Simanjuntak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here