Tanam Ban Bekas di Bantaran Kali, Warga Jakut Protes Sudin SDA

Jakarta, PONTAS.ID – Aktivis lingkungan hidup, Maseko memprotes Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) yang memanfaatkan limbah ban bekas di Kali Karang Bolong, Kelurahan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara. Pasalnya, keberadaan ban bekas yang sudah tidak terpakai menjadi salah satu faktor pencemaran lingkungan.

“Ban bekas akan mencemari lingkungan sekitarnya mengingat ban bekas tidak dapat terurai dengan mudah secara biologis,” kata Eko kepada wartawan, di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (10/9/2019).

Hal ini disampaikan Maseko merespon penempatan 2.300 an bekas ban truk milik Sudin SDA Jakarta Utara di bantaran kali Karang Bolong sepanjang 400 meter.

Meski jumlah stok ban bekas terus meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan pertumbuhan industri otomotif, lanjut Eko, bukan berarti Pemerintah seenaknya memanfaatkan limbah tersebut tanpa didahului penelitian yang komprehensif.

Pemerintah kata dia seharusnya menjadi garda terdepan dalam menyelamatkan lingkungan, terlebih isu lingkungan hidup saat ini masih terus menggelayuti Ibu Kota di bawah kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Untuk itu, lanjut Eko, pihaknya mendesak Sudin SDA Jakarta Utara menghentikan kegiatan yang dinilai berpotensi merusak lingkungan hidup tersebut.

“Setop dulu sementara dan kalau mau diteruskan harus melalui kajian akademis yang bisa dipertanggungjawabkan. Gubermur sibuk membenahi lingkungan harus kita dukung, tapi bukan berarti bisa seenaknya dengan dalih ‘inovasi’ tapi malah merusak!” pungkasnya.

Sebelumnya, Sudin SDA Jakarta Utara, mengaku berinovasi melakukan naturalisasi kali Karang Bolong dengan menggunakan ban bekas yang disusun untuk difungsikan sebagai pot yang akan ditanami sejumlah jenis tanaman seperti telo-telo atau climbing door.

“Jadi konsep inovasi itu kami menghadirkan vertikal garden di sepanjang turap kali itu. Insyaallah targetnya rampung Oktober mendatang,” kata Kasudin SDA Jakarta Utara, Adrian Mata Maulana, Selasa lalu.

Secara teknis, lanjut Adrian, naturalisasi turap tetap berpondasi cerucuk dolken dan kaso dengan ketinggian 3,5 meter. Sehingga turap tetap berfungsi natural yang mampu menyerap air kali.

“Inovasi ini berada di sisi kiri kali. Untuk sisi kanan rencananya akan kami terapkan trotoar dan penghijauan dengan memaksimalkan tanaman yang sudah tumbuh,” tutupnya.

Penulis: Edi Prayitno
Editor: Idul HM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here