Benang Merah Gagalnya ‘Aksi Makar 22 Mei’

Diskusi bertajuk "Menguak Dalang Makar 22 Mei" di Kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (29/5/2019)

Jakarta, PONTAS.ID – Kerusuhan yang terjadi pada tanggal 21-22 Mei lalu merupakan rencana makar yang gagal yang diinisiasi kelompok tertentu. Pasalnya kerusuhan yang menelan ratusan korban tersebut terjadi di saat ekonomi sedang tumbuh, alias tidak ada krisis.

Hal tersebut dilontarkan Direktur Imparsial, Al Araf dalam diskusi “Menguak Dalang Makar 22 Mei” di Kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Jakarta Pusat, Rabu (29/5/2019).

“Ada satu syarat yang tidak terpenuhi yakni dalam kerusuhan tersebut yaitu, krisis ekonomi. Jadi peristiwa tersebut merupakan upaya yang gagal karena membaca kondisi objektif tidak utuh,” kata Al Araf.

Dia juga menilai, kerusuhan selama dua hari dan puncaknya pada 22 Mei itu tidak jelas arahnya bahkan tidak berdampak pada kondisi ekonomi nasional.

Namun, kegagalan aksi makar tersebut lanjut Al Arf tak lepas dari soliditas TNI dan Polri RI dalam melakukan pengamanan. “Di tubuh TNI pun rasa solid sudah terbentuk sehingga tidak bisa terpecah dengan isu yang menyebut jika TNI terpecah belah,” terang dia.

“Jadi sebenarnya aksi makar itu gagal, menurut saya karena kondisi ekonomi Indonesia stabil sehingga upaya memancing massa enggak dapat dan sebaliknya masyarakat juga tidak mau terpancing. Beda sama 1998,” paparnya.

Ciptakan Kegaduhan
Dalam kesempatan tersebut, peneliti dari ‎Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hermawan Sulistyo meyakini korban tewas akibat luka tembak pada kerusuhan selama dua hari itu bukan dilakukan oleh aparat Polri.

Menurut dia, pelaku penembakan tersebut diduga berasal dari oknum yang memang sengaja ingin menciptakan kegaduhan, “Polisi tidak mungkin melakukan penembakan. Sebab, jika dilakukan tidak ada keuntungan yang diraih oleh polisi,” terangnya.

Lebih lanjut, Hermawan mengatakan oknum penembak tersebut merupakan orang yang terlatih. Mereka sengaja menyamar di tengah-tengah kerusuhan tersebut.

Terlebih hal itu dikuatkan berdasar informasi yang diterima dirinya bahwa korban yang meninggal terkena tembakan di bagian leher serta dada.

Sedangkan, jika pelaku penembakan tersebut merupakan aparat kepolsian, Hermawan menilai sudah pasti tembakan tersebut tidak akan tepat sasaran mengingat situasi yang terjadi ketika itu sedang chaos.

‎”Jadi memang ada unsur kesengajaan melihat titik sasaran penembakan di tempat yang sama,” ungkapnya.

Sementara itu, terkait jenis senjata api yang digunakan Hermawan menduga oknum tersebut menggunakan senjata api jenis pistol Glock. Senjata itu bukan jenis senjata api yang biasa digunakan oleh penembakan jitu.

“Kalau sniper polisi kan pelurunya itu besar. Jadi kalau dituduh aparat yang menembak, enggak masuk akal saya,” ucapnya.

Tabrak Aturan
Terkait siapa yang bertanggungjawab dalam kerusuhan itu, mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI, Laksda TNI (Purn) Soleman B. Ponto mengatakan bisa terlihat melalui seruan-seruan yang dilontarkan dari sejumlah tokoh.

“Indikasi kan jelas, bahwa dari awal sudah ada seruan mari kita langgar aturan. Dari Pak Prabowo ada, dari Pak Amin Rais ada. Ini kan sangat mungkin diikuti oleh yang bawah,” kata Soleman

Seruan itu, lanjut Soleman, bisa dikelompokkan menjadi tiga jenis. Pertama adalah klaim kemenangan oleh Prabowo-Sandi. Kedua, sikap tidak mau menempuh jalur Mahkamah Konstitusi (MK). Ketiga, seruan rencana demonstrasi di jalan.

“Seruan-seruan seperti ini ke bawah akan diterjemahkan macam-macam, salah satunya seperti kerusuhan. Pada dasarnya, yang di atas tidak menghendaki untuk mengkuti peraruran-peraturan yang ada,” imbuhnya.

Meski demikian, lanjut Soleman, masih harus dibutikan apakah seruan-seruan dari Prabowo, Amien Rais dan tokoh-tokoh lainnya terkait langsung dengan kerusuhan yang terjadi di lapangan.

“Apakah seruan ini betul-betul ada hubungan langsung dengan yang di bawah ini? Ini yang harus dibuktikan,” ujar Soleman.

Menurut Soleman, kerusuhan 21-22 Mei 2019 tidak muncul begitu saja. Dia menyebut awal dari rangkaian kerusuhan sudah bisa terlihat dari pasca-pencoblosan pada 17 April 2019.

“Dia pasti berawal dari 17 April, setelah ada quick count (hitung cepat). Dari situ kan pemanasan sudah mulai,” kata Soleman.

Sebagai informasi, hingga saat ini Polri sudah menetapkan enam tersangka kerusuhan. Keenam orang itu diringkus terkait kepemilikan senjata api yang akan digunakan dalam aksi kerusuhan pada 21-22 Mei pekan lalu.

Polisi juga mengungkapkan rencana para tersangka melakukan pembunuhan terhadap empat tokoh nasional yang terdiri dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Menko Polhukam Wiranto, Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Kepala BIN Budi Gunawan, dan Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen Gories Mere.

Penulis: Stevanny Andriani
Editor: Pahala Simanjuntak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here