Jakarta, PONTAS.ID – Gejolak ekonomi pada sektor baja antara China dengan Amerika, diyakini bakal berimbas pada pasar baja Asia. Namun, untuk dampak pada industri dalam negeri masih belum terlihat dampaknya.
“Tarik-menariknya kan China kemudian Jerman sedang tarik-menarik dengan AS. Bagaimana setelahnya kita belum tahu. Tetapi memang kalau itu berjalan, mau tidak mau bajanya Cina akan kemana-mana, termasuk ke Indonesia,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Jakarta, Rabu, (7/3/18).
Menurut Darmin, negara tirai bambu itu memang jadi produsen terbesar di dunia sejak pelaksanaan perhelatan Olimpiade 2018. “Masih terlalu dini lah kita bereaksi. Kita nanti rakor (rapat koordinasi) dulu dengan Menteri Perindustrian (Airlangga Hartarto) dan Menteri Perdagangan (Enggartiasto Lukita),”
Awal mula perang perdagangan dimulai dari pemerintah Amerika Serikat akan segera menaikkan bea masuk bagi baja impor menjadi 25 persen. Langkah ini membikin China sebagai produsen baja terbesar di Amerika bakal mengalihkan pasarnya ke Asia.
Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Harjanto mengungkapkan Indonesia bakal terkena imbas dari kebijakan Amerika itu.



























