Pelemahan Yuan Picu Pelebaran Defisit Ekonomi RI

Mata Uang Yuan

Jakarta, PONTAS.ID – Cina dengan sengaja membiarkan mata uang Yuan melemah sebagai aksi penyerangan balik terhadap Amerika Serikat (AS). Pelemahan Yuan tersebut cukup berdampak buruk terhadap perekonomian Indonesia.

Menurut Institute for Development of Economics and Finance (Indef) perang dagang kedua negara tersebut berdampak dua jalur yakni jalur perdagangan dan jalur nilai tukar. Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad mengatakan jalur perdagangan membuat impor dari Cina akan semakin besar karena produk-produk Cina semakin murah.

“Pada gilirannya akan mendorong defisit perdagangan yang dalam jangka waktu beberapa bulan akan melemahkan perekonomian. Ini dengan catatan kalau misalnya perdagangan kita menggunakan dolar,” kata Tauhid di Jakarta, Senin (12/8/2019).

Selanjutnya, kata Tauhid, jalur nilai tukar antara nilai tukar rupiah terhadap Yuan Cina. Jika rupiah terlalu kuat tentu saja sama efeknya barang impor akan semakin murah dan memiliki peluang impor produk Cina akan semakin meningkat.

“Namun memang kita impor pada Mei 2019 dengan mata uang yuan Chna (CNY) hanya sebesar 1,49 persen dibandingkan mata uang lainnya. Artinya, efek pertama yang jauh lebih besar,” ucapnya.

Ke depan, Tauhid melihat perang dagang tersebut akan berpengaruh lebih besar mengingat Indonesia membeli produk impor tersebut umumnya dalam bentuk dolar ketimbang yuan Cina (CNY), sehingga kalau nilai mata uang china diturunkan drastis hingga 15 persen.

Perlu Diwaspadai

Sementara itu, Menurut Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damanyanti perang dagang AS dengan Jepang Cina menjadi hal yang perlu diwaspadai oleh Indonesia.

“Cina ada suatu action dimana mereka melakukan akhirnya depresiasi yang terjadi di mata uang Yuan terhadap dolar AS cukup signifikan. Dan memang patut diwaspadai,” kata Destry di Jakarta.

Destry mengatakan perang dagang tersebut akan memberi pengaruh terhadap global maupun pasar domestik. Apalagi, saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga sedang tertekan.

“Sebab pengaruh global cukup berikan dampak domestik dan juga emerging market keseluruhan. Jadi kita perlu mewaspadai dan terus memonitor bagaimana perkembangan yang terjadi di global,” ucapnya.

Dari sisi domestik, kata Destry, tantangannya adalah pertumbuhan ekonomi masih mengandalkan konsumsi rumah tangga. Maka diperlukan upaya peningkatan masuknya investasi ke dalam negeri.
“Sebab dari konsumsi masyarakat dan investasi, kalau bisa fokus pada dua hal ini imaka pertumbuhan akan signifikan, karena keduanya sumbang 80 persen dari PDB (Produk Domestik Bruto),” ungkapnya.

Imbas perang dagang tersebut juga membuat perlambatan ekonomi global. Dana Moneter Internasional (IMF) yang menurunkan proyeksinya dari 3,3 persen menjadi 3,2 persen dalam laporannya Juli 2019 sedangkan Bank Dunia juga memangkas proyeksinya dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen.

“Pengaruh global itu cukup berikan dampak pada negara emerging market keseluruhan, termasuk ekonomi domestik. Jadi kita perlu mewaspadai dan terus memonitor bagaimana perkembangan yang terjadi di global,” ucapnya.

Bukan Kesengajaan

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution tidak berani menyebutkan pelemahan Yuan terhadap dolar AS belum tentu merupakan kesengajaan. Tapi, dalam kondisi perang dagang, setiap negara terlibat dapat saja membuat kebijakannya sendiri.

“Cina boleh saja nggak usah membalas dengan menaikkan lagi tingkat (tarif impor), Yuannya saja yang dilemahkan oleh mereka,” kata Darmin di Jakarta.

Atas pelemahan Yuan, Darmin menjelaskan, barang Cina akan lebih unggul di pasar internasional Sebab, produk dari Negeri Tirai Bambu ini akan lebih murah saat dijual dibandingkan dari negara lain. Oleh karena itu, rencana pengenaan tarif 10 persen dari pemerintah AS tidak akan berdampak signifikan terhadap ekonomi Cina.

Hanya saja, Darmin menambahkan, pelemahan Yuan tentu akan berdampak kepada mata uang negara lain yang berpotensi ikut ‘tertarik’ ke bawah. Tapi, ia tidak dapat memastikan apakah pola pelemahan ini bersifat temporer atau jangka panjang. Hal ini tergantung pada seberapa lama pertumbuhan ekonomi Cina melemah.

Pada Selasa pagi, nilai tukar yuan di pasar luar negeri terpantau jatuh hingga level 7,126 per dolar AS. Angka tersebut menjadi nilai terendah dalam satu dekade terakhir pada perdagangan.

Penulis: Luki Herdian

Editor: Hendrik JS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here