
Jakarta, PONTAS.ID – Pasangan suami istri, Abeng dan Tan Pin Nio, WNI keturunan Tionghoa, menjadi pasangan yang beruntung saat menerima hibah Rumah Siap Huni (RSH) yang ke-100 dari Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (BMI) di Desa Jatake, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Selasa, (21/8/2018).
Penyerahan ini disaksikan langsung oleh Sekretaris Menteri Koperasi UKM, Meliadi Sembiring, Pj. Bupati Tangerang, Dr. Komarudin, MAP, Kepala Dinas Koperasi UKM Kabupaten Tangerang Banteng Indarto dan turut hadir pengurus dari Asosiasi Manager Koperasi Indonesia (AMKI).
Pj. Bupati Tangerang, Dr. Komarudin menilai, program RSH yang dikembangkan oleh Kopsyah BMI sejalan dengan kebijakan Pemda yang memang tengah berupaya membangun ribuan rumah tidak layak huni yang tersebar di Kabupaten Tangerang.
Masalahnya, lanjut Komarudin, untuk menyelesaikan pembangunan rumah tidak layak huni itu, pihak Pemda mengalami kendala anggaran yang terbatas, sehingga memang dibutuhkan kerjasama dengan berbagai pihak termasuk dengan Kopsyah BMI.
Untuk itu, kata Pj. Bupati Tangerang, saya menawarkan pemanfaatan Unit Penggunaan Dana Bergulir (UPDB) Pemerintah Kabupaten Tangerang yang diharapkan dapat menambah permodalan koperasi.
“Koperasi merupakan solusi dalam mendekati masyarakat yang tidak bisa mengakses permodalan terhadap lembaga keuangan formal, karenanya kami akan terus mendukung aktivitas Kopsyah BMI dan koperasi lainnya di Kabupaten Tangerang dalam memberdayakan ekonomi masyarakat”, tegas Dr. Komarudin.
Senada dengan Komarudin, Sekretaris Menteri Koperasi dan UKM Republik Indonesia, Meliadi Sembiring, bahwa Kopyah BMI adalah partner pemerintah yang baik, dan koperasi menjadi trigger untuk mempercepat program pembangunan dan menekan angka pengangguran.
Meliadi sangat mengapresiasi tinggi atas upaya-upaya Kopsyah BMI yang selalu membuktikan peran sosial koperasi terhadap lingkungan sekitarnya. Meliadi menyebut peran sosial yang dilakukan itu merupakan tren masa depan yang dikenal dengan istilah sociopreneur.
“Jadi pengusaha besar itu biasa. Yang luar biasa adalah jika pengusaha itu bisa sukses bersama-sama dengan lingkungan atau masyarakat sekitarnya, dan Kopsyah BMI sudah memulai trend sociopreneur itu,” tuturnya dan berharap agar Pengurus Kopsyah BMI dapat menularkan ke koperasi lainnya melalui pelatihan, pendidikan atau magang.
Penyerahan RSH ke-100 terasa istimewa, selain pertama kali diberikan kepada WNI keturunan yang notabene bukan anggota, pembangunan rumah tersebut juga disumbang oleh para pegiat koperasi yang tergabung dalama AMKI.
Presiden Direktur Kopsyah BMI, Kamaruddin dalam hal ini mengatakan, target hibah RSH tahun ini mencapai 140 unit yang diserahkan kepada masyarakat tidak mampu baik anggota maupun non anggota, tanpa ada perbedaan suku, agama dan golongan.
“Marwah Koperasi adalah mensejahterakan anggota pada khususnya, dan non anggota pada umumnya, sehingga terjadi suatu pemerataan ekonomi yang Insyaallah tidak akan ada kesusahan”, tuturnya.
Selain membantu kegiatan ekonomi anggota, lanjut Kamaruddin, Kopsyah BMI juga sangat aktif dalam kegiatan sosial, pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat sekitar.
Untuk kegiatan kesehatan, Kopsyah BMI mengadakan program sanitasi, sedangkan untuk pendidikan diberikan gratis kepada anak-anak anggota sampai perguruan tinggi bagi 50 anak yatim yang lulus seleksi.
Kamaruddin berharap, pemerintah dapat memberi ruang gerak yang lebih luas bagi usaha koperasi. Jika kaum kapitalis bisa membangun banyak usaha, mulai dari retail, pertambangan hingga perhotelan, seyogyanya koperasi juga diberikan hak yang sama.
Ia berharap, dalam UU koperasi baru yang saat ini sedang dalam pembahasan dapat memberikan penegasan terhadap keberadaan koperasi serba usaha atau multi-purpose. Apalagi, dalam waktu dekat Kopsyah BMI akan mengembangkan sayap usahanya dengan mendirikan koperasi konsumen dengan prinsip kekeluargaan dan gotong royong.
“Dengan 138 ribu anggota, kalau kita kumpulkan saja Rp 100 ribu/orang maka totalnya sudah Rp 138 miliar, dan itu cukup untuk membeli 1 hotel. Atau 138 ribu anggota kita membeli beras masing-masing 1 liter saja, maka sudah berapa ribu ton beras yang harus disediakan? Banyak yang harus kita persiapkan, mulai petani dan pembukaan lahan yang luas,” tandas Kamaruddin optimis.
Bersamaan dengan RSH ke-100 ini, BMI juga menyerahkan pembiayaan rumah tanpa uang muka kepada Dewi (47), yang juga WNI keturunan Tionghoa.
Editor: idul HM























