Teten Dorong Pengusaha Bermitra dengan Koperasi

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki

Jakarta, PONTAS.ID – Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, mengungkapkan bahwa kemitraan melalui koperasi terbukti mampu meningkatkan produktivitas petani anggotanya. Salah satu contoh koperasi yang berhasil menjalin kemitraan itu di antaranya Koperasi Tani Hijau Makmur di Kabupaten Tanggamus, Lampung.

Koperasi Tani Hijau Makmur bermitra dengan PT Great Giant Pineapple (GGP) guna menggarap lebih dari 400 hektare lahan pohon pisang. Model kemitraan koperasi dengan jumlah anggota sebanyak 820 orang petani tersebut telah berhasil mengekspor 64 ton pisang per bulan per hektare atau 14.266 boks pada 2020 ke China, Malaysia, Singapura, dan Timur Tengah.

Saat berkunjung ke Koperasi Tani Hijau Makmur, Teten mengaku terkesan dengan kemitraan yang dikembangkan oleh koperasi tersebut. Ia menuturkan, kemitraan antara Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) termasuk petani melalui koperasi dan usaha besar menjadi prioritas Kemenkop sekaligus merupakan strategi mendorong UMKM naik kelas.

“Kami pelajari selama ini, petani yang kepemilikan lahannya sempit-sempit,  tidak mungkin bisa membangun coorporate farming yang bisa menghasilkan produk konsisten, mutunya bagus, dan meningkatkan kesejahteraan. Hampir tidak mungkin. Perlu kemitraan, karena jika petani orang-perorang berhadapan dengan pasar, itu kurang menguntungkan bagi petani. Jadi, biar koperasi itu yang urus ke sana (pasar),” tutur Teten melalui siaran pers, Senin (1/3/2021).

Lewat koperasi, kata Teten, kebutuhan bahan baku produksi dapat dipenuhi dengan harga lebih murah. Standar kualitas hasil produksi juga bisa dijaga dan akses pasar terjamin.

Koperasi Tani Hijau Makmur telah menunjukkan, koperasi dapat membangun organisasi dan manajemen yang profesional dan kemitraan yang terbuka luas. Teten mengatakan, model kemitraan antara Koperasi Tani Hijau Makmur dan  PT Great Giant Pineapple bisa dikembangkan ke tempat lain.

“Lampung ini ternyata hebat. PT GGP juga pemasok nanas kaleng terbesar di dunia.  Selain itu di sini kan juga ada jambu kristal yang bisa dikembangkan. Saya kira itu bisa dilakukan dalam skala-skala lahan yang sempit terutama di Jawa. Jadi saya kira Lampung banyak model yang bisa kita kembangkan,” bebernya.

Perlu diektahui, pisang merupakan buah-buahan penyumbang devisa terbesar kedua bagi Indonesia setelah nanas dengan nilai 14,6 juta dolar AS (data BPS 2018) atau sekitar Rp 204 miliar. Pada masa pandemi juga masih tetap bertahan dengan 11,15 juta dolar AS atau Rp 163 miliar, volumenya 22 ribu ton.

Penulis: Stevanny

Editor: Riana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here