Listrik Padam Massal, Pengusaha Alami Kerugian

Listrik Padam

Jakarta, PONTAS.ID – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai padamnya listrik pada Minggu (4/7/2019) kemarin telah menimbulkan kerugian bagi para pengusaha di Indonesia.

“Kerugian materiil maupun non-materiil pelaku usaha belum dapat dihitung nilai nominalnya, namun sudah jelas terjadi,” kata Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani dalam keterangannya, Selasa (6/8/2019).

Hariyadi menjelaskan, kerugian akibat padamnya listrik (blackout) bisa dilihat dari beberapa sisi pada sebuah perusahaan, seperti turunnya hasil produksi barang atau jasa dan hilangnya jam kerja, meskipun kejadian pada Minggu.

“Namun aktivitas usaha tetap berjalan, utamanya untuk sektor Jasa & Perdagangan seperti Perbankan, Perhotelan, Perdagangan Pasar Modern, dan lain-lain,” ujarnya.

Dia menambahkan, pengusaha/perusahaan harus menanggung tambahan beban biaya bagi perusahaan untuk mengoperasikan sumber cadangan tenaga listrik seperti genset.

Selain itu, risiko turunnya kepercayaan customer dan buyer akibat keterlambatan shipmert/distribusi barang yang tidak bisa sesuai dengan waktu pengiriman yang sudah disepakati dalam kontrak order.

“Bahkan tidak tertutup kemungkinan harus menanggung biaya demurrage dan atau biaya air-freight. Karena tidak mudah untuk menggunakan alasan force majeur atas blackout aliran listrik tersebut,” jelasnya.

Dia menilai, adanya insiden tersebut menunjukkan sistem pasokan tenaga listrik Tanah Air masih rentan. Sehingga kejadian serupa yang dikhawatirkan terulang di masa datang.

“Pernyataan pimpinan PLN yang akan memberikan kompensasi biaya atas kejadian tersebut diharapkan benar-benar dapat dilaksanakan sesuai kerugian pelaku usaha dan dengan prosedur yang sederhana, tidak berbelit-belit. Sehingga benar benar dapat dilaksanakan,” harapnya.

Dikeluhkan Pelaku Industri

Sebelumnya, Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto mengaku mendapat keluhan dari pelaku industri terkait kejadian pemadaman listrik secara massal.

Airlangga mengatakan, salah satu yang mengeluh langsung adalah pelaku industri petrochemical atau industri yang berproduksi selama 24 jam.

“Ada beberapa. Sektor petrochemical kan biasanya produksinya 24 jam. Jadi dengan listrik berhenti dia berhenti dan untuk recovernya butuh waktu,” kata Airlangga di Jakarta, Senin (5/8/2019).

Menurut Airlangga, pemadaman listrik secara massal tersebut jelas mengganggu laju produksi sektor industri. Tidak hanya industri yang berproduksi 24 jam setiap harinya tetapi semua sektor.

“Pemadaman tentu dampak terhadap industri cukup besar. Semua sektor,” jelas dia.

Tidak hanya itu, lanjut Airlangga, kejadian tersebut juga mengganggu komitmen ekspor industri. Hanya saja, dirinya belum mengetahui secara pasti seberapa besar kerugian sektor industri akibat pemadaman listrik massal kemarin.

“Terutama terkait dengan komitmen ekspor. Komitmen ini kan terganggu. Biasanya kan sudah ada schedule-nya dan pabrik mendadak berhentikan schedule pengiriman juga terganggu,” ungkap dia.

Penulis: Luki Herdian

Editor: Hendrik JS

Previous articleTak Ada Listrik, Desa Gunung Melayu Puluhan Tahun Gelap Gulita
Next articleIndustri Farmasi Siap Manfaatkan Peluang Bisnis E-Commerce