Pasca Debat, Bawaslu Bakal Evaluasi Pelanggaran Etika

Fadli Zon bersama Maruarar Sirait dan Komisioner Bawaslu Rahmat Bagja dalam diskusi Dialektika Demokrasi ‘Batasan Norma dalam Debat Capres’ di media center gedung DPR, Kamis (2122019)

Jakarta, PONTAS.ID – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) memastikan akan melakukan evaluasi dan rekomendasi atas pelaksanaan jalannya kegiatan Debat Calon Presiden dan Wakil Presiden yang sudah berlangsung dua kali. Evaluasi itu akan dituangkan dalam sebuah surat yang mencakup tiga poin.

“Nanti ada tiga poin yang akan kita bahas, yaitu teknis, supporter yang terlalu ramai dan serangan pribadi yang dilakukan capres kepada capres lainnya,” ujar
Komisioner Bawaslu. Rahmat Bagja dalam acara Dialektika Demokrasi ‘Batasan Norma dalam Debat Capres’ di media center gedung DPR, Kamis (21/2/2019).

Rahmat menuturkan, poin serangan pribadi itu hingga saat ini masih dalam pembahas. Menurut dia, aturan soal serangan pribadi tidak dimuat dalam peraturan perundang-undangan manapun. Aturan tersebut, dimuat dalam tata tertib debat.

Ditambahkan bekas pengamat politik Universitas Al Azhar ini mengatakan, aturan soal serangan pribadi tertuang dalam aturan debat yang dibuat KPU bersama Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf maupun Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

“Jika ada pihak yang melanggar aturan kesepakatan tersebut, maka sanksinya adalah etika ataupun norma antara TKN ataupun BPN,” kata Rahmat.

Ditempat yang sama, Dewan Pengarah BPN Prabowo-Sandi, Fadli Zon mengatakan, KPU akan disuguhi lima kali debat presiden atau istilah kerennya presidential debates.

Menurut Fadli, presidential debates itu adalah forum debat tertinggi. Kehormatannya pun juga tinggi. Dikatakannya debat capres itu terbagi dua, yaitu presidential debates dengan menagerial debates. Itu ada bedanya.

“Kalau pesidential debates, kata dia, harus lebih menyentuh kepada substansi, sesuatu yang metafor, filosofi, strategis dan juga sesuatu yang bisa menjadi solusi untuk jangka panjang,” terangnya.

Sedangkan manajerial debates bersifat sangat teknis, karena terkait dengan data dan angka-angka. “Apalagi kalau angka-angkanya ngawur. Ini yang menurut saya sangat rawan,” papar Fadli yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini.

Dikatakan Fadli, yang dipertontonkan Prabowo adalah presidential debates, sementara yang dipertontonkan Jokowi adalah manajerial debates. “Sayangnya, banyak data yang yang disampaikan Jokowi tidak akurat dan ini menjadi masalah,” paparnya.

Fadli menilai, menyangkut masalah etika debat, sangat tergantung kepada orangnya. Yang menyangkut etik itu sangat tergantung kepada kebiasaan sehari-hari.

“Dengan demikian, benar sekali apa yang dikatakan oleh Pak Rizal Ramli, kontes karakter itu adalah bagaimana masing-masing kandidat menempatkan diri. Apakah dia menempatkan diri sebagai seorang negarawan atau sebagai politikus, apakah dia sebagai manajer atau sebagai tukang,” tegas Fadli yang juga Wakil Ketua DPR ini.

Atas dasar itu semua, lanjut Fadli, maka ada hal yang harus menjadi pertimbangan dan catatan oleh Bawaslu, yaitu apakah ada yang dilanggar terkait dengan pernyataan Jokowi yang mengungkap aset kekayaan Prabowo.

“Ini penting menjadi perhatian dan catatan bagi Bawaslu,” pungkas Fadli Zon.

Sementara itu masih ditempat yang sama, Influencer TKN Jokowi-Ma’ruf Amin Maruarar Sirait mengakui banyak calon yang kalah berkali-kali. Tidak hanya Prabowo, tetapi juga Khofifah Indar Parawangsa dua kali kalah.

“Dia terus saja bersaing. Itu juga benar dan bagus, tetap punya semangat. Tetapi benar juga orang yang punya track record bagus, mulai dari wali kota terus menjadi gubernur dan kemudian menjadi presiden dan dipercaya terus untuk terpilih lagi,’ ujar pria akrab disapa Ara ini.

Oleh karena itu, lanjut politikus PDIP ini berkelakar jika Jokowi terpilih lagi, dia akan usulkan agar Fadli Zon diangkat menjadi salah seorang menteri di kabinet Jokowi.

Editor: Luki Herdian

Previous articleHasil Liga Europa, Spanyol, Inggris dan Italia Kirim Wakilnya ke 16 Besar
Next articleSaat Bertugas, BPN Minta Menteri Tak Berkampanye