Miliki Culture Value Tinggi, Menpar Apresiasi Festival Gandrung Sewu 2018

Banyuwangi, PONTAS.ID – Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya mengapresiasi gelaran Festival Gandrung Sewu 2018 di Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim), lantaran memiliki cultural value atau nilai kultur yang tinggi, sehingga menarik banyak minat wisatawan.

“Gandrung Sewu memiliki cultural value, creative value dan memiliki commercial value yang tinggi. Indikatornya jelas, penerbangan dan hotel penuh, rumah makan ramai. Itulah pentingnya cultural value. Budaya itu semakin dilestarikan semakin menyejahterakan,” kata Arief dalam siaran pers Kemenpar, Senin (22/10/2018).

Dia juga menyebut, tidak salah bila Gandrung Sewu masuk dalam Top 100 Calender of Event (COE) Nasional, karena event kolosal ini diikuti 1000 hingga 1200 penari. Kabupaten Banyuwangi sendiri menyumbang 3 event yang masuk dalam CoE Nasional bersama Tour de Banyuwangi Ijen dan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC).

“Saya pastikan Gandrung Sewu masuk menjadi top 100 CoE Nasional 2019. Mengapa Gandrung Sewu masuk? Karena di isi 1000-1200 penari kolosal. Konfigurasi nya bagus, eventnya selalu menjadi yang paling enak difoto,” ujarnya.

Hal yang sama juga diutarakan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas yang menyebut kebesaran event Gandrung Sewu ini tak lepas dari pemberitaan yang positif oleh banyak media. Setiap tahun, para fotografer baik media nasional maupun asing ramai mengabadikan momen ini.

Dia lantas menyampaikan ucapan terimakasih kepada Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) beserta jajarannya, yang telah melakukan upaya untuk percepatan pengembangan infrastruktur di kabupaten berjuluk ‘Sunrise of Java’ itu.

“Mulai dari percepatan Bandara Banyuwangi. Infrastruktur jalan dan dalam waktu dekat akan ada dukungan dari Bank Indonesia untuk pembangunan homestay di Banyuwangi,” tutur Anas.

Gandrung Sewu 2018 sendiri mengusung tema ‘Layar Kumendung’ yang melibatkan sebanyak 1173 penari, 64 penampil fragmen, dan 65 pemusik. Di pertunjukan ini koreografi tarian diselingi dengan fragmen drama Layar Kumendung dengan perbandingan 70 persen tarian dan 30 persen fragmen.

Tema Layar Kumendung yang diangkat pada tahun ini, menampilkan kisah heroisme Bupati pertama Banyuwangi, Raden Mas Alit dalam menentang pendudukan VOC Belanda. Meski kemudian Raden Mas Alit harus gugur dalam sebuah ekspedisi pelayaran (Layar) hingga menyebabkan kesedihan (Kumendung) bagi rakyat Banyuwangi.

“Ini bagian dari 77 event yang ada di Banyuwangi. Event ini digelar tanpa event organizers professional. Banyuwangi boleh maju, Banyuwangi boleh berkembang tetapi Budaya Banyuwangi tidak disingkirkan,” imbuh Anas.

Untuk diketahui, Festival Gandrung Sewu yang dibuka pada Sabtu (20/10/2018) kemarin, digelar di Pantai Marina Boom, Banyuwangi, Jatim. Kemenpar melaporkan saat acara, area event dipadati ribuan wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus). Diperkirakan ada dua ribu wisatawan yang menyaksikan pagelaran tersebut.

Editor: Risman Septian

Previous articleTingkatkan Pertumbuhan Ekonomi, Kemendag Fokus Genjot Ekspor
Next articlePerlindungan Data dengan 3 Lapis Proteksi Milik Transcend 25H3

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here