UAS dan Cak Imin Penentu Poros Ketiga?

UAS dan Cak Imin

oleh: Direktur Eksekutif SIGMA, Said Salahudin

Peta koalisi partai-partai politik terkait penentuan posisi calon Wakil Presiden (cawapres) baik di kubu penantang maupun kubu petahana masih sangat dinamis. Nama Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) mungkin saja akan memberi pengaruh terhadap kemungkinan munculnya poros ketiga.

Membaca gelagat politik Prabowo Subianto belakangan ini, saya meraba Ketua Umum Partai Gerindra itu sepertinya kurang tertarik untuk berpasangan dengan tokoh PKS Habib Salim Segaf Aljufri.

Dari Partai Demokrat dan PAN pun gejalanya cenderung sama dengan Prabowo. Demokrat bahkan sudah mulai berani menunjukan resisten terhadap Habib Salim.

Demikian pula dengan PAN. Partai pimpinan Zulkifli Hasan (Zulhas) itu tampaknya ragu Prabowo bisa memenangkan Pilpres jika berpasangan dengan Habib Salim.

Jika dinamika yang terjadi di kubu Prabowo itu benar adanya, maka itu artinya PKS terancam gagal untuk memajukan kadernya sebagai cawapres Prabowo.

Sebab berat bagi PKS untuk memperjuangkan nama Habib Salim sendirian jika tidak mendapatkan ‘support’ dari Demokrat, PAN, atau bahkan dari Gerindra sendiri.

Saya justru menangkap kesan Prabowo saat ini lebih condong untuk menggaet tokoh muda Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai pendampingnya

Problemnya, PKS dan PAN tampak kurang sreg dengan AHY. Situasi ini tentu tidak menguntungkan bagi Prabowo. Sebab, jika pada akhirnya Prabowo memilih AHY, maka PKS dan PAN mungkin saja akan membuat sebuah rencana baru.

Nah, dari segala kerumitan tersebut, maka saya menduga pada acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PAN nanti, Zulhas akan menawarkan cawapres alternatif yang dianggap bisa diterima oleh Gerindra, PKS, dan mungkin juga oleh Demokrat.

Nama kandidat itu sepertinya bukan lagi Anies Baswedan atau Gatot Nurmantyo, tetapi Ustaz Abdul Somad (UAS).

UAS dipandang dapat menjadi solusi alternatif dari segala kerumitan yang terjadi dalam proses penentuan cawapres Prabowo ditengah ketatnya persaingan antara Habib Salim dan AHY.

Jika UAS yang ditawarkan oleh PAN, maka PKS kemungkinan juga akan setuju. Sementara di internal Gerindra sendiri nama UAS termasuk salah satu kandidat yang cukup diinginkan.

Dengan demikian, jika paket Prabowo-UAS yang dipilih, maka dengan asumsi Gerinda, PAN, dan PKS setuju, lalu bagaimana dengan Demokrat?

Sejauh ini saya melihat Demokrat sedikit alergi pada UAS. Tetapi oleh karena UAS bukan kader dari PKS dan PAN, maka latar belakang UAS sebagai tokoh non-parpol mungkin dapat menjadi penawar alergi Demokrat.

Walaupun akan menerima UAS dalam perasaan batin yang terpaksa, misalnya, saya kira diam-diam Demokrat juga sudah punya hitung-hitungan terkait prospek paket Prabowo-UAS dalam menandingi petahana.

Oleh sebab itu, seandainya benar PAN akan mengusung UAS sebagai cawapres alternatif bagi Prabowo, dan usulan itu dapat diterima oleh Gerindra, PKS, dan Demokrat, maka peluang terbentuknya poros ketiga akan mengecil.

Tetapi sebaliknya, dalam hal UAS tetap menolak untuk disandingkan dengan Prabowo dengan alasan ia ingin tetap menjadi seorang pendidik dibidang agama, maka pintu poros ketiga menjadi sedikit terbuka.

Ketika Prabowo memilih AHY, misalnya, maka rencana baru PKS dan PAN yang saya sebut diawal tadi mungkin saja akan diarahkan untuk membentuk poros ketiga.

Tetapi poros baru itu tentu tidak bisa dibentuk hanya oleh mereka berdua. Sebab, tempat duduk PKS di DPR hanya 40 kursi dan PAN 48 kursi. Jumlah ini tenru belum memenuhi syarat pengusulan capres-cawapres, minimal 112 kursi.

Oleh sebab itu, PKS dan PAN tentu harus mencari mitra baru. Disini saya melihat peluangnya ada pada PKB. Dengan modal 47 kursi DPR, PKB bisa menambah kekurangan kursi PKS dan PAN.

Bersama PKS dan PAN, PKB akan tetap bisa mengusung Cak Imin sebagai cawapres dalam hal Jokowi batal menjadikan Ketua Umum PKB tersebut sebagai pendampingnya.

Disitulah saya kira kepentingan PKS, PAN, dan PKB bertemu. Jika kemungkinan itu benar-benar terealisasi, maka ketiga parpol tersebut akan menjelma menjadi koalisi partai-partai politik berbasis massa Islam.

Tetapi siapa calon Presidennya? Mungkin saja Gatot Nurmantyo. Gatot selama ini dikenal cukup dekat dengan kelompok ulama semisal GNPFU. Kedekatan itulah yang bisa menjadi jembatan bagi Gatot untuk bisa diterima oleh PKS.

Sementara dari PAN sendiri nama Gatot selama ini cukup sering disebut-sebut. Bahkan ketika Zulhas pernah melakukan pertemuan dengan Gatot, nama mantan Panglima TNI itu sempat dipuji oleh PAN.

Selain daripada itu, bagi PKS dan PAN mungkin saja Gatot dipandang sebagai tokoh yang paling mendekati figur Habib Salim dan UAS dalam konteks pergaulannya dilingkungan kelompok Islam.

Oleh sebab itu, peluang poros ketiga bentukan PKS, PAN, dan PKB dalam skenario ini bisa saja mengusulkan Gatot dan Cak Imin sebagai pasangan capres-cawapres mereka.

Skenario Gatot-Cak Imin lewat poros ketiga juga mungkin saja tercipta dalam hal Prabowo memilih Habib Salim sebagai pendampingnya.

Walaupun peluang duet Prabowo-Salim saat ini semakin menipis, tetapi jika pasangan itu tetap diusung oleh Gerindra dan PKS, maka kini giliran Demokrat yang akan menemani PAN untuk menggagas poros ketiga.

Skenarionya poros ketiga versi yang kedua ini tetap mengasumsikan Cak Imin keluar dari kubu petahana karena ia batal dicomot sebagai cawapres Jokowi.

Pertanyaannya, mungkinkah Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mau menukar AHY dengan Gatot?

Walaupun peluangnya memangbtidak besar, tetapi menurut saya mungkin saja hal itu dilakukan oleh SBY, mengingat Gatot bukanlah orang yang baru dia kenal.

Saat menjabat sebagai Presiden, SBY-lah yang melantik Gatot Nurmantyo sebagai KSAD. Selama keduanya bersama-sama di pemerintahan, pastilah diantara mereka sudah terbangun suatu relasi yang bersifat personal.

Faktor kepercayaan SBY kepada Gatot itulah yang mungkin menjadi dasar pertimbangan dan keyakinan bagi SBY untuk pada akhirnya merestui Gatot sebagai capres dari poros Demokrat, PAN, dan PKB, dengan Muhaimin Iskandar sebagai cawapresnya.

Dari uraian diatas itulah saya mendasari alasan bahwa boleh jadi UAS dan Cak Imin akan menjadi subjek yang akan ikut menentukan terbentuknya poros ketiga.

Jadi, jika UAS yang dipilih sebagai pendamping Prabowo, maka pintu poros ketiga sepertinya hanya bisa untuk mengintip. Tetapi jika UAS tidak menjadi cawapres Prabowo dan Cak Imin benar-benar keluar dari koalisi petahana karena ditolak sebagai cawapres Jokowi, maka disitu pintu poros ketiga setengah terbuka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here