Kembangkan LCCT, Kemenpar – Angkasa Pura II Berkolaborasi

Jakarta, PONTAS.ID – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggandeng pihak PT. Angkasa Pura (AP) II, dalam rangka mengembangkan low cost carrier terminal (LCCT) di Indonesia, untuk mencapai target 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman).

Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya mengungkapkan bahwa rencananya Terminal 2 di Bandara Soekarno Hatta (Soetta), Tangerang digadang-gadang sebagai tempat mendaratnya maskapai berbiaya murah atau low cost carrier (LCC).

“Kami diminta oleh Pak Presiden (Joko Widodo) dalam waktu sebulan ini harus memiliki LCCT. Saya sudah bertemu Pak Awaluddin (Dirut AP II), kami sudah sepakat LCCT paling mungkin di terminal 2 Bandara Soekarno Hatta,” kata Arief, Selasa (24/7/2018).

Dia menjelaskan, pertumbuhan penumpang internasional setiap tahunnya rata-rata 13 persen per tahun. Dari angka tersebut, pertumbuhan penumpang yang menggunakan layanan full service carriers (FSC) sekitar 7 persen.

Sedangkan, tambah Arief, untuk penumpang LCC tumbuh 55 persen per tahun. Namun butuh waktu untuk merealisasikan LCCT di Indonesia. Dia pun berpendapat, mendatangkan 20 juta wisman hampir pasti tidak akan tercapai jika menggunakan cara yang biasa.

“Hasil yang luar biasa hanya bisa ditempuh dengan cara yang tidak biasa! Terminal LCC paling tepat karena pertumbuhan trafiknya di atas 20 persen, sejalan dengan target pertumbuhan pariwisata 21 persen. Kalau mengandalkan terminal FSC seperti Garuda di bawah 5 persen, sulit diandalkan untuk mencapai target,” ujarnya.

Dengan adanya terminal LCC, maka maskapai bisa memotong biaya operasional hingga 50 persen, namun akan memiliki trafik yang meningkat dua kali lipat. Seperti diketahui passenger service charge (PSC) di Terminal 2 Domestik Soekarno Hatta mencapai 85 ribu rupiah, dan Terminal 2 Internasional Soekarno Hatta sebesar 150 ribu rupiah.

“Sebanyak 45 maskapai LCC potensial yang belum terbang ke Indonesia. Contohnya Indigo (India) Vietjet (Vietnam) tidak mau karena airport chargenya mahal. Hingga saat ini AirAsia yang sudah komitmen. Dimanapun ada LCCT AirAsia siap akan terbang,” ujarnya.

LCCA di Banyuwangi

Di tempat terpisah Dirut AP II, Muhammad Awaluddin mengemukakan anggaran revitalisasi, yang antara lain berorientasi menjadi LCCT itu, dialokasikan sebesar 1,9 miliar rupiah untuk Terminal 1. Sisanya 1,8 miliar rupiah untuk Terminal 2, sehingga totalnya 3,7 triliun rupiah.

AP II juga kini sedang melakukan pengembangan Bandara Banyuwangi. Sesuai dengan arahan Menteri BUMN, Bandara Banyuwangi, Bali, serta Lombok (BBL) akan menjadi ‘Tourism Triangle’ untuk mensinergikan pariwisata di ketiga daerah tersebut. Dalam rangka mendukung program tersebut Bandara Banyuwangi akan dikembangkan menjadi low cost carrier airport (LCCA).

“AP II menyiapkan total investasi tidak kurang dari 300 milyar rupiah. Pengembangan Bandara Banyuwangi ini juga sebagai program dukungan AP II untuk event Annual Meeting IMF – World Bank yang akan diselengarakan di Nusa Dua Bali pada bulan Oktober 2018,” ungkap Awaluddin.

Lebih lanjut dia menambahkan, bahwa Bandara Banyuwangi rencananya akan diusulkan menjadi bandara internasional menyusul permintaan dari beberapa maskapai untuk membuka rute internasional dari dan menuju Malaysia dan Australia.

“Sebenarnya PT Angkasa Pura II sudah memiliki LCCT yakni Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta. Kedepannya, kami programkan Terminal 1 menjadi full LCCT penerbangan domestik. Sedangkan Terminal 2 full LCCT untuk penerbangan domestik dan internasional,” jelasnya.

Untuk diketahui, manfaat keberadaan LCCT dapat terlihat dari pertumbuhan grafik destinasi yang dikunjungi wisatawan di beberapa negara. Sebagai contoh, Negara Jepang yang telah memulai pengembangan LCCT sejak 2012 yang lalu.

Dengan mengembangkan LCCT, wisatawan yang inbound ke Jepang sejak tahun 2011 hingga tahun 2015 mengalami pertumbuhan sebesar 33 persen, dan di tahun 2017 justru mencapai 28,7 juta turis dengan pertumbuhan tertinggi di dunia.

Editor: Risman Septian

Previous articleMenteri ATR/Kepala BPN Resmi Buka Rakernas
Next articleCIPS Nilai Benih Jagung Hibrida Tidak Efektif Dan Perlu Dievaluasi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here