Ada Dugaan Mark-Up, Pembentukan Pansus LRT DPRD DKI Diapresiasi

Proyek pembangunan LRT Kelapa Gading - Velodrome.

Jakarta, PONTAS.ID – Direktur Eksekutif Central Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi mengapresiasi keputusan pihak DPRD DKI Jakarta yang akan segera membentuk Panitia Khusus (Pansus) Pembangunan Light Rail Transit (LRT).

Pasalnya menurut Uchok, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta yang dianggarkan pada tahun 2017, alokasi dana untuk pembangunan LRT dianggap terlalu mahal, bahkan bisa diduga terindikasi praktik mark-up.

“Ini suatu inisiatif yang baik dari pihak legislatif. Adanya pansus membuktikan bahwa dewan menjalankan fungsi kontrol. Dengan terbentuknya pansus, berarti dewan harus menelusuri adanya dugaan mark-up dalam proyek LRT ini,” kata Uchok di Jakarta, Selasa (10/7/2018).

Dia lantas mengingatkan kepada pihak DPRD DKI, agar sebaiknya turut mengandeng pihak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau auditor negara, untuk membongkar tuntas biaya pembangunan LRT per kilometer yang dikabarkan sangat mahal tersebut.

“Masa’ pembangunan LRT tersebut harga per kilometernya bisa mencapai angka Rp1,172 triliun. Itu kan jelas-jelas terlihat sangat janggal sekali. Dan bisa kita duga telah terjadi suatu penyimpangan dalam penganggaran tersebut,” ujar Uchok.

Untuk diketahui, surat usulan pembentukan Pansus Pembangunan LRT Jakarta telah dikirim ke pimpinan DPRD DKI Jakarta. Dalam surat itu tertera nama dan tanda tangan para anggota dewan, di antaranya Ketua Fraksi Gerindra Abdul Ghoni.

Selain itu, ada juga nama dan tandatangan dari Wakil Ketua DPRD Mohamad Taufik, anggota DPRD Rany Mauliani, Seppalga Ahmad, Dwi Ratna, Syarif, serta sejumlah nama-nama anggota dewan lainnya.

“Adanya surat tersebut jadi bukti keseriusan DPRD untuk membentuk pansus LRT Jakarta. Enggak pakai lama, secepatnya akan segera terbentuk. Surat juga sudah terkirimkan,” kata Wakil Ketua DPRD, M Taufik di Gedung DPRD DKI, Jakarta Pusat, Senin (9/7/2018).

Menurut Taufik, harga pembangunan LRT di Jakarta jauh di atas rata-rata pembangunan LRT di dunia, yakni 8 juta dolar AS per kilometer, atau sekitar Rp111.200.000.000 per kilometer (kurs 1 dolar AS sama dengan Rp13.900).

Sedangkan yang tertuang dalam APBD untuk biaya investasi pembangunan LRT Jakarta sendiri mencapai Rp6,8 triliun, dengan rute Kelapa Gading-Velodrome sepanjang 5,8 kilometer, yang pembangunannya dimulai sejak awal 2017 dan ditargetkan beroperasi pada Agustus 2018.

“Dengan angka sebesar itu, biaya per kilometer pembangunan LRT di Jakarta tersebut tentu terlalu mahal yakni sebesar Rp1.172.413.793.103 per kilometer. Pembangunan LRT di Jakarta ini mahalnya jelas sangat kelewatan,” tutur Taufik.

Editor: Risman Afrianda

Previous articleSeptember 2018 Beras Kemasan 200 Gram Hadir di Seluruh Wilayah Indonesia
Next articleLSI: Pasca Pilkada Serentak 2018, Elektabilitas Jokowi Cenderung Naik