Jakarta, PONTAS.ID – Sembilan bulan menjelang pelaksanaan Pemilu Presiden (Pilpres) 2019, dan pasca Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) serentak yang diadakan pada 27 Juni 2018 yang lalu, elektabilitas Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) cenderung naik.
Demikian salah satu temuan survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA, yang dilakukan pada 28 Juni – 5 Juli 2018. Berdasarkan hal tersebut, hingga saat ini Jokowi disebut masih merupakan calon presiden (Capres) terkuat.
“Jika Pilpres dilaksanakan pada saat survei dilaksanakan, maka elektabilitas Jokowi mencapai 49,30 persen,” kata peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby saat merilis hasil survei terbarunya di kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (10/7/2018).
Angka tersebut, tambah Adjie, mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan survei yang sama oleh LSI pada Mei 2018 atau sebelum Pilkada serentak. Dimana saat itu elektabilitas Jokowi masih sebesar 46,0 persen.
Namun demikian Adjie mengingatkan, bahwa meskipun nama Jokowi masih teratas dan elektabilitasnya mengalami tren kenaikan, penting dicatat bahwa angkanya masih dibawah 50 persen. Sebagai petahana, angka tersebut katanya belum bisa disebut aman.
“Karena artinya banyak pemilih yang masih memilih capres lainnya, dan sebagian masih belum menentukan pilihan. Pemilih loyal Jokowi hanya sebesar 32,0 persen. Sementara 17,3 persen lainnya bisa mengubah pilihan ke capres lainnya,” tutur Adjie.
Untuk diketahui, survei LSI tersebut dilakukan melalui face to face interview menggunakan kuesioner. Survei memakai metode multistage random sampling, dengan 1200 responden yang tersebar di 33 provinsi, dan margin of error sebesar kurang lebih 2,9 persen.
Editor: Risman Septian




























