Pesta Sabu di Puncak, Polisi Boyong 60 Warga Kampung Bahari

Jakarta, PONTAS.ID – Sebanyak 60 warga Kampung Bahari, Tanjung Priok diboyong ke Polres Metro Jakarta Utara dari di vila Cipanas, Jawa Barat saat asik pesta sabu, Kamis (3/6/2021).

Mereka terdiri dari 25 laki-laki, 15 perempuan, dan 20 anak-anak, di mana 5 orang dari mereka ditetapkan sebagai tersangka.

“Mereka mengadakan familiy gathering judulnya, berkumpul bersama keluarga, karena pada saat kami tangkap mereka bawa anak istri dan semuanya kita cek urine,” ungkap Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Guruh Arif, di Polres Metro Jakarta Utara, Jumat (4/6/2021).

Dari 60 yang diamankan, tiga di antaranya, HS, AR dan MS merupakan bandar narkoba yang memiliki lapak di Kampung Bahari, Jakarta Utara. Sedangkan dua tersangka lainnya diamankan karena merupakan kaki tangan ketiga tersangka.

Menurut Guruh, kasus ini bermula ketika tim opsnal menyelidiki tiga orang tersebut. Kemudian anggota mendapat informasi bahwa mereka sedang berada di wilayah Puncak Jawa Barat.

“Selanjutnya personel menuju salah satu vila dan telah diamankan bandar narkoba beserta peserta lain keseluruhan sebanyak 60 orang. Mereka mengadakan pesta narkoba dengan berkedok liburan bersama keluarga,” lanjutnya.

Dari hasil pemeriksaan urine, 23 laki-laki dan 4 perempuan dinyatakan positif menggunakan sabu.

Dari hasil penggeledahan, polisi menyita barang bukti berupa satu plastik sabu seberat 3,78 gram, satu plastik sabu seberat 0.48 gram, dua butir ekstasi, dan tiga alat hisap sabu.
Sementara itu, 22 orang lainnya yang positif metamfetamin akan direhabilitasi.

Untung Menggiurkan
Menurut Kapolres, bandar narkoba berinisial HS mengaku terjun menjadi bandar narkoba karena ketertarikan bisnis hitam dengan keuntungan yang menggiurkan.

“Memang kalau barang itu saya yang bawa. Enggak ditawarin emang udah bareng-bareng aja gitu. Saya enggak jual. Yang jual anak buah saya,” ujar HS di Polres Metro Jakarta Utara, Jumat (4/6/2021).

Dari bisnisnya ini, dia memiliki puluhan anak buah dan membuat dirinya untung hingga ratusan juta selama satu bulan. “Saya punya anak buah 48 orang. Keuntungan satu bulan Rp100 juta bisa. Saya bebas bulan tiga tahun 2021. Saya memang kasih uang mereka juga,” katanya.

Sementara, rersangka AR mengaku menyesal ikut dalam pesta narkoba di vila yang akhirnya membuat dirinya kembali mendekam di jeruji besi. “Saya baru kemarin bebas. Di Puncak saya diajak sekadar silaturahmi atau liburan saja. Saya baru ikut bang HS kemarin. Saya menyesal karena saya melihat anak-anak, kasihan,” ujar AR.

Sebelum menjadi bandar narkoba, dia bekerja sebagai penjual besi, namun dalam perjalanannya usahanya tidak meningkat hingga membuat dirinya memilih cara lain.

Kasat Resnarkoba Polres Metro Jakarta Utara, AKBP Ahsanul Muqaffi menambahkan, tersangka berikutnya, HS, merupakan pemain lama dalam bisnis narkoba. Bahkan, dia juga pernah menjadi residivis dengan kasus yang berbeda.

“Kalau menurut pengakuan dia, yang jelas dia mulai ditahan 2017-2018, berarti sebelum itu sudah (melakukan pengedaran narkoba),” kata Ahsanul.

“Tahun 2003 dia pernah ditahan karena kasus pencurian kendaraan bermotor (ranmor), setelah itu dia baru mulai main (narkoba), berarti 2004,” terang Ashanul.

Terhadap kelima tersangka, Polisi menjerat pasal 114 subsider 112 UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan hukuman paling singkat 6 tahun penjara sampai hukuman 20 tahun penjara.

Penulis: Yos Casa Nova F
Editor: Fajar Virgyawan Cahya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here