Kuda Lumping Musyrik? Begini Penjelasan Sejarawan

Medan, PONTAS.ID – Baru-baru ini terjadi pembubaran secara paksa atraksi Kuda Lumping di Medan, Sumatera Utara. Pembubaran yang dilakukan oleh sekelompok orang berseragam Forum Umat Islam (FUI) itu berbuntut panjang hingga akhirnya 11 orang dijadikan tersangka, termasuk Ketua FUI Medan.

Kuda Lumping mempunyai sejarah yang cukup tua. Bahkan di Sumatera Utara sendiri kesenian khas tanah Jawa ini cukup fenomenal.

Ichwan Azhari seorang sejarawan dan budayawan Sumatera Utara mengatakan, atraksi dalam kesenian Kuda Lumping merupakan cerminan dari suasana budaya masyarakat, pengetahuan mereka tentang dunia, dan kepercayaan terhadap hal-hal magis.

Kuda Kepang (lumping) di Sumatera Utara saat ini, lanjut dia, mempunyai kekhasan yang lain meskipun berasal dari Jawa. “Ini disebabkan konteks alam dan budaya di Sumatera Utara yang berbeda pula,” kata Ichwan, Rabu (14/4/2021),

Untuk itu tentu pertunjukan Kuda Lumping kata Ichwan harus ditelaah lebih jauh melalui Etnografi Pertunjukan untuk lebih memaknai, dan membentuk cara pandang yang berbeda dari yang sebelumnya dalam memandang Kuda Kepang.

“Sehingga dapat menangkap membaca dan memaknai secara lebih mendalam budaya etnis Jawa di Sumatera Utara,” katanya.

Ritual Tolak Bala
Merujuk laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jaran Kepang, Jaranan atau Kuda Lumping adalah kesenian rakyat atau tarian penunggang kuda (jaran) dengan kuda mainan yang terbuat dari bilahan anyaman bambu yang dirangkai sedemikian rupa lantas dijepit di antara dua kaki penarinya.

Kuda-kudaan tersebut ditambahkan asesori serta pewarnaan sehingga bentuknya menyerupai kuda sungguhan. Iringan musiknya sederhana, didominasi kenong dan terompet.

Pada mulanya Jaran Kepang bukanlah sebuah seni pertunjukan, bukan pula dinamakan kesenian karena memang zaman dulu belum dikenal istilah kesenian.

Jaran Kepang adalah bagian dari ritual menolak bala, mengatasi berbagai musibah, meminta kesuburan pada lahan pertanian, mengharap keberhasilan panen, dan juga supaya masyarakat aman dan tenteram.

Pada zaman primitif terdapat kepercayaan bahwa kerusakan lingkungan, wabah penyakit, bencana alam dan sebagainya terjadi karena kekuatan roh nenek moyang.

Seiring dengan perjalanan waktu, setiap musibah, bencana atau berbagai masalah dalam kehidupan dihubungkan dengan roh nenek moyang itu disusun menjadi serangkaian cerita yang berkembang menjadi mitos yang diyakini oleh masyarakat.

Kemudian dilakukan upacara (ritus) dengan tujuan agar musibah tidak datang lagi. Kejadian yang berlangsung berulangkali kemudian berkembang menjadi berbagai simbol yang digunakan untuk kegiatan ritual.

Penulis: Ayub Badrin
Editor: Pahala Simanjuntak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here