Pra Puasa, Adnan Ns: Orang Aceh Wajib Konsumsi Daging Meugang

Jakarta, PONTAS.ID – Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain pula belalangnya. Sepenggal bait pantun ini mencerminkan, betapa antar suku bangsa di republik Indonesia ini satu sama lainnya memiliki perbedaan suku, agama, bahasa, adat istiadat dan budaya serta tradisinya.

Pernyataan itu disampaikan oleh Senator Perdana asal Aceh, Adnan Ns kepada PONTAS.id, melalui media perpesanan whatsApp pada Rabu (14/4/2021).

“Mungkin atas pertimbangan inilah, pendahulu republik kita memberi simbol ‘Bhinneka Tunggal Ika’. Artinya bercerai berai letak geografinya di nusantara ini, namun bersatu di bawah payung besar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujar Adnan Ns

Menurutnya, apa yang menjadi tradisi tiga hari belakangan menjelang bulan Puasa di Tanah Rencong, Aceh ini sungguh berbeda dengan provinsi lain di nusantara ini. Pasalnya aktifitas warga paling barat Nusantara ini sangat disibukan dengan tradisi hari meugang (Uroe Makmeugang). Orang Sunda menyebutnya hari mungguhan atau punggahan bagi orang jawa.

“Bedanya tidak bersifat massal dan semeriah di Aceh. Dalam tradisi orang sunda dan jawa simbol makan bersama itu tidak musti mono menu daging saja,” imbuh Adnan Ns yang juga seorang Dosen ilmu Sosial dan Politik di Universitas Iskandar Muda tersebut.

Adnan menuturkan, Uroe Makmeugang bagi masyarakat Aceh boleh disebut hari khusus ‘Pestapora Santapan Daging’ secara besar-besaran. Tradisi ini seperti perhelaan ritual yang sangat mengental dan dianggap tradisi sakral dalam kehidupan sosial budaya warga provinsi bagian utara di ujung barat Nusantara ini.

Pengertian sakral dimaksudkan, suatu tradisi seperti sangat bersahaja dalam pesta santapan daging multi rasa ini.

Padahal kari Aceh sebagai resep nenek moyangnya ini, juga bagian daripada santapan populer keseharian warga di sini.

“Begitu pun, terkesan suasana hari meugang ini tak boleh dilewati setiap menjelang Bulan Suci Ramadhan. Rasanya belum sah dan belum lengkap suasana menyonsong Ramadhan andai di rumah mereka belum menghirup bau sedapnya masakan kari Aceh ini,” tuturnya

Suasana tiga hari menyambut bulan suci, bulan agung dan bulan yang lebih baik dari seribu bulan ini, ditamsilkan sebagai hari dan bulan terbaik tiada tara di jagad ini. Sebagai bagian kekentalannya, Orang Aceh menyebutnya Uroe got buleuen got, beumeutume pajoh leupek Mak peugot.

“Maksudnya pada suasana hari baik bulan baik seperti ini setiap orang harus bisa mencicipi makanan dan gulai khas hasil racikan tangan ibunya sendiri,” Jelasnya

Dampak perhelaan hari meugang ini, harga dagingnya melangit. Harga dagingnya jadi termahal di Indonesia. Padahal Aceh itu termasuk salah satu lumbung pangan jenis ternak di Sumatera. Harga satu kilogram daging berkisar antara Rp. 160.000-180.000, sedangkan harga daging di Jakarta paling banter hanya Rp. 140.000,- per kg.

“Timbul pertanyaan, mengapa orang Aceh yang mayoritas islam ini doyan menyantap daging hewan ternak? Adakah kaitannya dengan rata-rata keturunan mereka dari Arab dan India? Waulahualam bissawab, untuk hal ini diperlukan kajian dan penelitian mendalam,” terangnya

Tak hanya itu, masih kata Adnan yang merupakan Deklarator Aceh Jaya, dalam suasana menjelang Ramadhan seperti ini, jika ada anak, menantu dan cucu yang tidak pulang menyinggahi rumah ortunya, ini bisa dianggap tak lagi beradat dan beradab.Walau putra putrinya sudah statusnya pejabat tinggi negara di negeri ini. Kiriman dana dan daging tidak berharga jika tidak ‘menyetor’ muka (sowan) secara langsung.

Pada suasana seperti ini, warga Aceh di luar provinsi maupun di luar kabupaten berbondong-bondong menyambangi para ortunya di tanah kelahiran. Hari sakral ini diadatkan sebagai hari sungkeman menyongsong tibanya masa puasa satu bulan penuh.

“Di Republik kita ini orang hanya mengenal adanya tradisi mudik pada setiap menjelang Hari Raya Idul Fitri saja. Namun berbeda dengan di Aceh. Musim mudiknya justru berlangsung dua kali. Menjelang puasa dan menjelang Idul Fitri, saban tahunnya,” ungkapnya

Andai petugas statistik melakukan sensus pekan ini, jumlah warga Aceh dipastikan bertambah. Bagi orang Aceh yang memiliki job di provinsi lain, maka pada bulan puasa ini, adalah hari bermukim dan bertemu keluarga untuk waktu lama.

Dalam suasana kebatinan seperti ini, puncaknya adalah meugang (makan daging) bersama sanak keluarga. Suasana ini memberikan simbol keakraban dan riang gembira dan saling bercanda. Anak, cucu dan menantu dilarang saling membentak, memarahi dan mencaki maki.

Pada suasana ini, kucing dan anjingpun biasanya ikut kebagian bongkahan dagingnya.Tulang besar yang kurang bermanfaat diletakkan pada akar pohon sekitarnya sehingga menjadi santapan keong dan serangga.

Dalam kehidupan Orang Aceh, pada Hari Meugang dan bulan puasa seperti ini, dilarang keras memunculkan persengketaan dan melakukan proses perceraian pasangan suami isteri.

Masih dalam suasana meugang, nilai daging setumpuk lebih bernilai daripada sejuta rupiah. Artinya, jika anaknya tidak pulang untuk mencium tangan orang tuanya, tapi hanya mengirim satu tentengan atau tumpukan dagingnya saja, maka anaknya itu dianggap melanggar adat dan melanggar adab sekaligus.

Begitu sakralnya ritual meugang di Aceh sudah terpatri dan mendarah daging dalam jiwa individunya secara turun temurun.

Pada hari meugang seperti ini rata-rata warga Aceh membeli dalam jumlah banyak untuk santapan pesta dini. Selebihnya dijadikan daging awetan dalam bentuk sie reuboh (daging rebus kari), sie balu(daging endapan) lalu dipotong tipis-tipis kemudian dijemur hingga kering.

Daging awetan basah berbumbu rempah kari pada dasar kuali secara otomatis sudah beralas unsur gumuknya (minyak daging beku). Setiap menjelang hendak makan sahur dipanaskan sekejap saja, langsung disantap.Boleh juga digoreng mirip daging steak.

Sebaliknya sie balu itu menjadi menu wajib setiap sahur tiba. Masih seputar daging awetan ini ada juga yang membuat daging asapan dan daging dendeng yang diramu khusus dengan unsur rempah.

Lebih lanjut, Mantan Ketua PWI Aceh itupun menceritakan tradisi meugang Era Aceh sebagai Negara Kerajaan Darussalam tempo doeloe, maka sang rajalah yang harus menalangi kebutuhan daging meugang. Kaum fakir miskin, orang sakit, cacat dan tunanetra, hanya menanti kiriman dari Daulat Tuwanku Raja.

Untuk itu sang raja memerintahkan Tandi Siasah, sang Kepala Gudang Harta Kerajaan (sekarang Ka. Bulog. Red.) menginventarisasi daftar kaum duafa di seluruh negerinya.

Isi gudang dikuras sebagian, selanjutnya ditukarkan dengan dirham untuk didistribusikan kepada kaum duafa secara berjenjang via para hulung balang (ulee balang) kepada para mukim dan para Geuchik (Kades) untuk pembelian hewan ternak.

“Sayangnya, penguasa dan orang kaya sekarang ini sudah tak berhati mulia menyantuni hamba laeh(tak mampu) seperti itu,” kata Adnan

Kaum duafa sekarang ini terpaksa berjibaku mencari setumpuk daging meugang, jika sang suami pulang tanpa menjinjing daging, pasti bakal muncul peperangan di rumah tangganya.

Tak heran, demi setumpuk daging seorang suami harus berhutang ke sana ke mari untuk mendapatkannya. Jika tidak, derajat kelakiannya akan amblas dan merasa hina dina dia di tengah kehidupan sosialnya di kampungnya.

“Sebaliknya jika seorang pria berstatus penganten baru dan memiliki kemampuan, wajib menggotong kepala kerbau atau sapi sebagai persembahan untuk mertuanya,” tandas Adnan Ns yang juga Dewan Penasehat PWI Pusat periode 2013-2018 itu.

 

Penulis: Rahmat Mauliady

Editor: Pahala Simanjuntak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here