Jakarta, PONTAS.ID – PT Pertamina (Persero) mencatat total laba bersih (unaudited) sepanjang 2019 senilai USD 2,1 miliar, atau jika dikonversi ke rupiah dengan kurs Rp 13.725, nilainya setara Rp 28,8 triliun.
Adapun, realisasi tersebut merosot sebesar 17 persen dibanding capaian laba bersih tahun 2018 yang sebesar USD 2,5 miliar.
Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Resiko Pertamina, Heru Setiawan, memaparkan, merosotnya laba di tahun kemarin karena terpengaruh oleh harga minyak dunia yang merosot sepanjang 2019.
Ia juga menjelaskan untuk laba 2019 belum termasuk selisih HJE (Harga Jual Eceran) yang masih menunggu proses audit BPK yang akan selesai di Maret 2020.
“Net income penurunan USD 2,5 miliar menjadi USD 2,1 miliar. Asumsi ICP kita mengacu pada ICP USD 51,2 per barel 2017, USD 67,5 per barel 2018, USD 62,3 per barel 2019. Angka 2019 masih prognosa belum audit BPK,” papar Heru, di Komisi VI DPR RI, Jakarta, Senin (3/2/2020).
Tak hanya laba, total pendapatan Pertamina sepanjang 2019 juga mengalami penurunan menjadi USD 52,4 miliar dari sebelumnya USD 57,9 miliar di 2018.
Ebitda 2019 tercatat USD 8,2 miliar, turun dibanding 2018 sebesar USD 9,2 miliar.
Heru juga mengatakan adanya penurunan total aset dari USD 64,7 miliar jadi USD 63,8 miliar.
“Angka 2019 ini adalah prognosa kami karena belum diaudit juga, jadi masih banyak asumsi maupun diskresi yang belum masuk ek dalam proses audit ini. Sementara 2017-2018 sudah merupakan angka audit,” tukasnya.
Heru mengungkapkan, pendapatan tersebut disokong oleh penjualan dari sisi hulu dan hilir perusahaan. Heru mencatat produktifitas perusahaan di hilir berkontrobusi paling banyak atas kondisi pendapatan perusahaan. Hanya saja, di sisi hulu memang yang paling mendapatkan profit.
“Revenue terbesar pertamina ada di downstream, namun sebagian besar profit dari hulu,” tuntas Heru.
Penulis: Ririe
Editor: Riana




























