Soal Penyebab Blackout PLN, Pohon Sengon atau Serangan Siber?

Listrik Padam

Jakarta, PONTAS.ID – PT PLN (Persero) masih belum bisa memastikan penyebab mati listrik (blackout) disebagian wilayah Pulau Jawa yang terjadi pada Minggu (4/8/2019) lalu. PLN berdalih, saat ini masih dilakukan invetigasi terkait penyebab blackout tersebut.

Diketahui, PLN membentuk tim investigasi independen untuk menyelidiki mengenai padamnya listrik yang terjadi beberapa waktu lalu. Tim investigasi ini terdiri dari para pakar dari Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia.

Sedikitnya, ada tujuh Perguruan Tinggi Negeri yang ikut dalam tim investigasi independen, seperti Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan perguruan tinggi lainnya.

Direktur Strategis II PT PLN, Djoko Rahardjo Abumanan, mengatakan, pihaknya baru akan mengumumkan kepada publik mengenai penyebab padamnya listrik begitu proses investigasi selesai.

“Kita kembalikan ke investigasi, nanti kita ngomong begini terus investigasi bilang bukan di situ, nanti salah,” tutur Djoko, saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (12/8/2019) kemarin.

Pohon Sengon ‘Pelaku Utama’ Blackout?

Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa penyebab terjadinya blackout adalah pohon sengon.

Direktur Teknik dan Lingkungan Ditjen Ketenagalistrikan ESDM, Wanhar, menuturkan, hal tersebut didapatkan dari hasil investigasi dari pihaknya yang sebelumnya telah menerjunkan tim instruktur untuk mengecek penyebab gangguan tersebut. Salah satunya mengecek keberadaan pohon yang diduga menjadi penyebabnya.

“Katanya pohon sengon, kami kirim tim, dan benar iya memang ada pohonnya. Masuk dalam ruang batas bebas,” kata Wanhar, sebagaimana diwartakan Liputan6.com, baru-baru ini.

Wanhar mengatakan, pohon tersebut memiliki ketinggian melebihi batas yang ditentukan. Apabila melewati batas maka seharusnya dipangkas.

Sementara itu, sekretaris Ditjen Ketenagalistrikan, Munir Ahmad, mengatakan secara persuasif, Kementerian ESDM sebagai regulator telah meminta agar PLN menertibkan pohon yang berada di luar batas tersebut dengan bernegosiasi ke masyarakat pemilik pohon.

“Tapi kadang-kadang ada yang bandel, mereka enggak mau potong minta kompensasi lebih besar sehingga perlu negosiasi,” tutur Munir.

Meskipun ada tinggi pohon yang melanggar batas, pihaknya tidak bisa memberikan sanksi. Kementerian ESDM hanya bisa membina, mengawasi namun tidak bisa mengintervensi langsung. Investigasi lebih jauh sedang ditangani oleh Bareskrim Polri.

Dan, terkait dugaan pohon sengon menjadi pelaku utama matinya listrik, Djoko Rahardjo mengaku dirinya enggan berspekulasi lebih dalam.

“Kami sejauh ini tidak pernah bilang (penyebab blackout) karena pohon sengon. Investigasi ini pasti sangat kompleks. Biar tim yang membuktikan nanti dengan investigasi yang masih dilakukan,” ujar Djoko.

Blackout Bukan Serangan Siber

Sebelumnya, Analis Keamanan dan Intelijen, Ridlwan Habib, menyarankan, PLN harus menyikapi blackout listrik secara serius. Ia pun mengatakan, PLN harus melakukan investigasi mendalam, termasuk mewaspadai kemungkinan adanya serangan siber terorisme di infrastruktur listriknya.

“Peristiwa ini diliput oleh berbagai media internasional, menunjukkan bahwa ibukota negara bisa lumpuh tanpa listrik. Ini berbahaya bagi sistem keamanan nasional, ” tegas Ridlwan, sebagaimana dikutip dari Tribunnews.com.

Ridlwan menuturkan, kewaspadaan terhadap serangan Siber Terorisme pada perangkat perangkat gardu utama baik Sutet maupun GITET PLN harus segera dilakukan. Sebabnya, serangan siber terorisme bisa mengacaukan sistem kendali frekuensi dan pasokan listrik. Dan, apabila tidak diantisipasi maka bisa berdampak pada situasi kepanikan masyarakat.

“PLN harus segera membuat tim siber kontra terorisme yang memeriksa semua jaringan instalasi, termasuk perangkat dan email para petugas di lapangan agar aman dari serangan, ” paparnya.

Namun, hal berbeda diungkapkan oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Terkait dengan blackout PLN beberapa waktu lalu, Kepala BSSN, Hinsa Siburian, mengaku, pihaknya telah berkoordinasi dengan PLN merespon peristiwa itu untuk mengantisipasi kemungkinan adanya serangan siber di Indonesia.

Dan kata Hinsa, berdasarkan hasil penyelidikan, peristiwa blackout PLN bukan serangan siber.

“Lebih teknis, itu urusan PLN sendiri. Kita belum temukan ada serangan siber, tapi berpengaruh ke semua, misalnya internet tak jalan,” ujar Hinsa, dalam acara Kegiatan Diskusi Publik dan Simposium Nasional RUU tentang Keamanan dan Ketahanan Siber di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Senin (12/8/2019) kemarin.

Hasil Investigasi Diumumkan Kamis Esok

Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo, mengatakan, tim gabungan akan mengumumkan hasil investigasi awal terkait blackout di sebagian Pulau Jawa pada Kamis (15/8/2019) mendatang.

“Kamis pekan depan, hasil assessment awal terkait faktor penyebab pemadaman listrik akan disampaikan,” kata Brigjen Dedi di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (8/8/2019) pekan lalu.

Menurut dia, hasil investigasi secara keseluruhan baru akan diumumkan pekan berikutnya setelah pemeriksaan pembangkit listrik di Ungaran, Jawa Barat, Banten, dan Jakarta.

Dedi menyebut, tim yang dibentuk Polri diberi dua pekan untuk mengungkap penyebab insiden pemadaman listrik. Tim gabungan yang dilibatkan dalam investigasi ini tidak hanya penyidik Bareskrim Polri, melainkan melibatkan sejumlah ahli dari kementerian, instansi terkait, dan perguruan tinggi.

“Tim dari Bareskrim ada Ditsiber, Puslabfor, Inafis. Kami juga menggandeng ahli dari BPPT, Kementerian ESDM, IPB, dan juga pakar kelistrikan Dr Reza,” bebernya.

Penulis: Riana
Editor: Idul HM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here