Jakarta, PONTAS.ID – PT PLN (Persero) inginĀ harga gasĀ untuk sektor kelistrikan diturunkan. Hal ini untuk menjaga agar biaya produksi listrik tetap rendah, sehingga kenaikan tarif listrik bisa dihindari.
Direktur Pengadaan Strategies II, Djoko Raharjo Abumanan, mengatakan, saat ini harga gas untuk bahan bakar pembangkit masih terbilang mahal, yaitu USD 9,3 per MMBTU. Sedangkan kebutuhan gas untuk pembangkit sebanyak 55 kargo per tahun.
“Gimana harga gasnya jangan mahal-mahal,” kata Djoko, di Jakarta, Rabu (29/1/2020).
Djoko menuturkan, saat ini pihaknya masih membeli gas dari Pertamina dengan harga 9,3 dollar AS per Million Metric British Thermal Unit (MMBTU). Ia meminta, harga gas ditekan layaknya industri lain, yakni USD 6 per MMBTU. Pasalnya, harga gas nantinya akan berdampak terhadap harga listrik.
“Kami hari ini belinya USD 9,3 per MMBTU) untuk 55 kargo, bayangin. Iya iyalah (ingin harga gas USD 6 per MMBTU),” ujarnya.
“Listrik mau naik nggak? enggak kan,” sambungnya
PLN sendiri sudah menghitung potensi penggunaan gas untuk pembangkit yang dimilikinya. Paling tidak pihaknya bisa mengurangi penggunaan BBM dari 2,6 juta kiloliter (kl) menjadi 1,6 juta kl.
Direktur Utama PLN, Zulkifli Zaini, menuturkan, hal itu bakal menghemat biaya operasional hingga Rp 4 triliun.
“Dengan estimasi pengurangan biaya operasi sebesar Rp 4 triliun. Jadi penurunan konsumsi BBM jadi 2,6 juta kl menjadi 1,6 juta kl tersebut akan mengurangi biaya operasional,” kata Zulkifli, saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VII di DPR RI, Selasa (28/1/2020).
Penulis: Riana
Editor: Stevanny




























