Selain Terjunkan 39 Kapal, Ini Strategi Pertamina Tangani Tumpahan Minyak di Karawang

Direktur Hulu Pertamina, Dharmawan Samsu.

Jakarta, PONTAS.ID – PT Pertamina (Persero) mengaku terus meningkatkan upaya penanganan oil spill (tumpahan minyak) di sekitar sumur YYA-1 yang dikembangkan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Offshore North West Java (ONWJ). Adapun, sebanyak 39 kapal telah diterjunkan untuk menampung oil spill yang mengapung di laut.

“Ada sembilan desa di Karawang dan dua desa di Bekasi terdampak. Kami terus melakukan pembersihan di titik pantai yang telah terdampak,” kata Direktur Hulu Pertamina, Dharmawan H Samsu, di Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Sementara, untuk mencegah kejadian agar tidak melebar utamanya tumpahan minyak di Anjungan YY tersebut, kata Dharmawan, Pertamina sudah melakukan penghalauan aliran minyak agar tetap berada di perairan dekat dengan anjungan lepas pantai. Caranya, yakni dengan menyiapkan tujuh lapis alat penghadang aliran minyak.

“Kami sudah siapkan 7 layer proteksi telah kami kembangkan di sekitar area terdampak. Layer 1 kita pasang static oil boom di sekitar anjungan YYA-1 sepanjang 2.450 meter untuk menahan oil spill dalam lingkungan anjungan,” tutur Dharmawan.

Kemudian, di lapisan kedua, lanjut Dharmawan, ditempatkan dynamic oil boom untuk mengejar tumpahan minyak yang lolos dari lapisan pertama.

Lapis ketiga kembali diisi dengan alat yang sama pada lapis kedua guna menahan tumpahan minyak yang lolos.

“Layer keempat kita taruh perhatian khusus ke anjungan yang ada awaknya. Kami harus memastukan minyak tidak sampai di situ, dan kalau sampai di situ harus diangkat segera,” bebernya.

Ada pun lapisan selanjutnya atau lapisan kelima, yaitu memasang “oil boom” Tanjung Sedari dan lapis keenam pemasangan dilakukan di Tanjung Bekasi.

Selanjutnya, lapis terakhir yakni aerial surveillance, atau pantauan udara untuk melihat di pesisir utara Jawa.

Adapun, terkait penurunan volume tumpahan minyak, Dharmawan mengatakan sejak 26 Juli lalu terlihat mulai ada penurunan signifikan berdasarkan observasi, simulasi, dan foto udara.

“Tentu ada alasan scientific mengenai itu. Kita dapatkan angka sekitar rata-rata 300 barel per hari dari yang diangkat. Mudah-mudahan tumpahan yang ke darat bisa kita cegah karena yang sekarang di darat kemungkinan berasal dari awal terjadinya tumpahan,” tuntasnya.

Penulis: Riana
Editor: Luki H

Previous articleSoal Tumpahan Minyak di Karawang, Bos Pertamina: Sudah Tinggal 10 Persen…
Next articleSpesifikasi Tak Jelas, Drainase Kelurahan Mekar Baru Asahan Bermasalah