Jakarta, PONTAS.ID – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengajak para wisatawan untuk segera memviralkan di media sosial (medsos), apabila terjadi permasalahan yang terjadi di tempat wisata, dalam libur lebaran atau Idul Fitri 1440 Hijriah.
Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi menjelaskan bahwa langkah untuk memviralkan di medsos tersebut patut untuk dilakukan, apabila wisatawan sudah melaporkan masalah yang terjadi kepada pihak pengelola, namun tidak mendapat respon yang memadai.
“Jika konsumen dirugikan atas pelayanan jasa wisata, maka cepat-cepatlah melaporkan atau mengadukan ke pihak pengelola. Jika responnya tidak memadai, kalau perlu, silakan diviralkan sebagai bentuk hukuman sosial,” kata Tulus kepada wartawan di Jakarta, Senin (3/6/2019).
Tulus mengingatkan, bahwa beberapa hari setelah merayakan Idul Fitri, biasanya masyarakat akan berbondong-bondong menyerbu tempat destinasi wisata. Tentu ini hal yang positif, setidaknya untuk menggairahkan ekonomi lokal. Plus untuk mempromosikan destinasi wisata lokal kepada wisatawan nusantara.
Namun mengingat terjadi lonjakan konsumen yang drastis, YLKI meminta kepada semua pihak, khususnya pemerintah daerah, pengelola tempat wisata dan konsumen, untuk memerhatikan beberapa hal.
“Yang pertama, pengelola tempat wisata harus memperhatikan jumlah pengunjung dengan kapasitas maksimal tempat wisata. Jangan jor-joran menjual tiket masuk, sehingga terjadi over kapasitas tempat wisata tersebut. Jika hal ini terjadi sangat merugikan bahkan membahayakan konsumen,” ujarnya.
Tulus menjelaskan, konsumen bisa dirugikan karena menjadi tidak optimal dalam menikmati wahana wisata. Dan membahayakan, karena bisa terjadi accident di tempat wisata, seperti arena bermain yang patah atau jembatan gantung ambruk.
Untuk mengantisipasi hal itu, dia mengingatkan bahwa pengelola wisata harus meningkatkan pengawasan yang lebih intensif guna menjamin keamanan dan keselamatan tempat wisata. Konsumen pun jangan memaksakan diri memasuki tempat wisata, jika sekiranya tempat wisata itu sudah berjejal-jejal, over kapasitas.
“Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya dokter jaga untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, plus harga tiket masuk seharusnya include asuransi wisata,” tutur dia.
Harga Makanan
Kemudian Tulus juga mengingatkan kepada pengelola wisata, agar membuat standar harga makanan dan minuman yang dijual oleh para tenant atau penjual. Hal tersebut bertujuan agar wisatawan tidak dikerjai oleh para oknum penjual yang nakal.
“Jangan jadikan momen Lebaran untuk nggetok konsumen jasa wisata dengan harga yang ugal-ugalan. Pengelola wisata harus mewajibkan para tenant di tempat wisata untuk membuat dan mencantumkan price list (daftar harga) dari harga makanan dan minuman yang dijualnya,” ucapnya.
Pengelola tempat wisata pun diminta untuk memerhatikan dan menjaga kebersihan dan higienitas toilet dan juga tempat ibadah. Jangan sampai mereka membiarkan toilet kotor, jorok, dan bau. Pengelola juga harus menjaga ketersediaan air bersih yang cukup.
“Demikian juga tempat ibadah, selain bersih juga harus dilengkapi dengan sarana penunjang lainnya, dan dipisahkan antara jemaah laki-laki dan perempuan,” imbuh dua.
Terakhir, Tulus meminta agar pemerintah daerah (pemda) dan pengelola tempat wisata memerhatikan managemen parkir dan rekayasa lalu lintas di sekitar tempat wisata.
“Jangan sampai tempat wisata memicu kemacetan di sekitar lokasi, khususnya di jalan raya. Dan yakinkan tidak ada pungli parkir bagi konsumen jasa wisata,” tukasnya.
Penulis: Risman Septian
Editor: Idul HM




























