Jakarta, PONTAS.ID – Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya berharap peran media massa untuk turut serta menciptakan iklim yang kondusif, pasca bencana dimanapun terjadi sebagai upaya mitigasi bencana.
Hal tersebut disampaikan Arief dalam diskusi dan sosisalisasi mitigasi bencana bertema ‘Be aware, Be prepare Before Traveling’ yang digelar oleh bagian Manajemen Krisis Kepariwisataan, Biro Komunikasi Publik (Komblik) Kemenpar bersama Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) di A One Hotel, Jakarta, Rabu (27/2/2019).
Arief menegaskan pentingnya peran media dalam memberitakan kejadian bencana, sehingga akan sangat mempengaruhi persepsi publik terhadap bencana yang terjadi.
Oleh karena itu, media diminta untuk turut serta menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana, demi mewujudkan iklim yang kondusif bagi pengembangan sektor pariwisata. Media katanya juga mesti memberi daya dukung terhadap upaya mewujudkan iklim yang kondusif bagi pengembangan sektor pariwisata.
“Diskusi mitigasi bencana bertujuan agar para jurnalis memahami apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana. Begitu muncul bencana, media gencar memberitakan kemudian diikuti ‘travel advisory’ dari negara-negara sumber wisman. Bila pemberitaan bencana tersebut cepat dan akurat maka akan mengurangi dampak negatif pada pariwisata,” kata Arief.
Maka dari itu dia menilai peran media sangat menentukan terhadap tetap kondusifnya pariwisata di suatu daerah pasca-bencana terjadi. Jangan sampai media justru malah keliru dalam memberitakan suatu peristiwa bencana. Jika itu terjadi, maka bisa mengacaukan banyak hal.
Hal yang paling berpengaruh terhadap kunjungan wisman ke wilayah rawan bencana, adalah status bencana di daerah tersebut mulai dari status waspada, siaga, awas, hingga status darurat.
“Begitu pemda menetapkan daerah statusnya ‘darurat’ apa yang terjadi? Di seluruh dunia menerbitkan ‘travel warning’ atau ‘travel advice’ tidak boleh berkunjung ke daerah itu,” ujar Arief.
Ditempat yang sama Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho menuturkan bahwa peran media dalam keterbukaan informasi dan akses media menjadi ujung tombak dari bangsa, untuk mengurangi risiko bencana dan meningkatkan kesiapsiagaan.
“Media massa dapat terus mengedukasi dan mengingatkan kepada masyarakat untuk selalu tangguh. Ini tentu tidak terlepas potensi bahaya yang ada di tanah air, seperti bencana alam, bencana non-alam, dan bencana akibat ulah manusia,” tutur Sutopo.
Di setiap daerah di Indonesia, tambah Sutopo, memiliki ancaman bahaya yang berbeda-beda. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemahaman karateristik ancaman bahaya perlu untuk digali dan diinformasikan kepada masyarakat.
“Media punya peran luar biasa. Karena bagi media ‘bad news is a good news’. Informasi hendaknya tidak membuat risau tetapi semakin masyarakat tahu dan sadar, sehingga bangsa kita bisa saling mengingatkan dan mengontrol. Ini untuk meminimalkan jatuhnya korban jiwa dan kerugian,” pungkasnya.
Editor: Risman Septian




























