LSI Denny JA: Kondisi Ekonomi Pengaruhi Masyarakat dalam Memilih Capres

Jakarta, PONTAS.ID – Dalam hukum elektoral, banyak variabel independen (penyebab) yang menentukan naik turunnya elektabilitas seorang kandidat. Salah satu isu atau variabel yang penting dalam setiap kontestasi adalah kondisi ekonomi.

Demikian disampaikan oleh Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA, Ardian Sopa. Dimana dia pun menegaskan bahwa bagi seorang petahana, variabel kondisi ekonomi lebih penting lagi. Jika dipersepsikan baik, maka berkah elektoral akan diperoleh petahana. Namun jika dipersepsikan buruk maka berpotensi menjadi bencana bagi petahana.

“Saat ini, kondisi ekonomi Indonesia dipersepsikan baik oleh mayoritas pemilih. Sebesar 70,3 persen pemilih menilai bahwa kondisi ekonomi Indonesia sedang dan baik. Dan hanya sebesar 24,7 persen yang menilai kondisi ekonomi Indonesia buruk,” kata Ardian dalam konferensi pers dikantornya, Jakarta Timur, Selasa (27/11/2018).

Penilaian kondisi ekonomi ini, menurutnya akan berpengaruh ke dukungan terhadap dua pasang Capres-Cawapres yang akan bertarung dalam kontestasi Pilpres 2019 mendatang, yakni Joko Widodo – Ma’ruf Amin (Jokowi-Ma’ruf) sebagai petahana, dan Prabowo Subianto – Sandiaga Salahuddin Uno (Prabowo-Sandi) sebagai penantang.

“Dari mereka yang mempersepsikan kondisi ekonomi saat ini sedang dan baik, sebesar 64,4 persen menyatakan mendukung Jokowi-Maruf. Dan sebesar 20,5 persen memilih pasangan Prabowo-Sandi,” ujarnya.

Sedangkan mereka yang menilai kondisi ekonomi Indonesia buruk, sebesar 63,9 persen memilih pasangan Prabowo-Sandi. Dan hanya sebesar 25,5 persen yang memilih pasangan Jokowi-Ma’ruf.

Jika dibreakdown, penilaian baik buruk ekonomi pun berdampak pada dukungan kedua capres di berbagai segmen pemilih. Di pemilih berdasarkan segmen pendidikan yang menilai ekonomi Indonesia on the right track, mayoritas mendukung Jokowi kembali menjabat periode kedua.

“Baik mereka yang hanya lulus SD maupun kelompok segmen pelajar, yang menilai ekonomi baik, rata-rata diatas 60 persen menyatakan memilih Jokowi-Ma’ruf. Dan sebaliknya rata-rata dibawah 25 persen, di semua segmen pendidikan yang menilai ekonomi baik, yang memilih pasangan Prabowo-Sandi,” tutur Ardian.

Sementara mereka yang menilai ekonomi Indonesia buruk, lanjut dia, hampir di semua segmen pendidikan, memilih Prabowo-Sandi sebagai pilihan capresnya. Mereka yang menilai ekonomi buruk, semakin tinggi pendidikannya, semakin tinggi dukungannya terhadap Prabowo-Sandi.

Lebih lanjut Ardian mengungkapkan, di segmen pendapatan, mereka yang menilai kondisi ekonomi sedang dan baik, baik yang berpendapatan tinggi maupun berpendapatan rendah, mayoritas menyatakan mendukung Jokowi-Ma’ruf.

“Dukungan Jokowi-Ma’ruf rata-rata diatas 60 persen di semua segmen pendapatan, dari mereka yang menilai kondisi ekonomi sedang dan baik. Sementara mereka yang menilai kondisi ekonomi buruk, baik mereka yang berpendapatan tinggi maupun rendah, mayoritas memilih Prabowo-Sandi,” imbuh dia.

Keunggulan Prabowo-Sandi di pemilih yang menilai ekonomi buruk, lebih tinggi di segmen pendapatan menengah hingga ekonomi mapan. Namun di segmen pemilih wong cilik yang mempersepsikan ekonomi buruk, meski unggul namun keunggulan Prabowo-Sandi tidak signifikan.

“Di segmen pemilih ‘wong cilik’ yang menilai ekonomi buruk, dukungan Prabowo-Sandi sebesar 42 persen, sementara dukungan Jokowi-Ma’ruf di segmen ini sebesar 41,2 persen,” tukasnya.

Untuk diketahui, hasil survei terbaru LSI Denny JA tersebut dilakukan pada tanggal 10-19 November 2018, dengan menggunakan 1200 responden. Survei dilakukan di 34 provinsi di Indonesia dengan metode multistage random sampling. Wawancara dilakukan secara tatap muka dengan menggunakan kuesioner.

Margin of error survei ini adalah 2,8 persen. Selain survei, LSI Denny JA juga melakukan riset kualitatif dengan metode FGD, analisis media, dan indepth interview untuk memperkaya analisa survei. Survei ini dibiayai sendiri oleh LSI Denny JA.

Editor: Risman Septian

Previous articleKemenkeu Percepat Kebijakan Pengenaan Cukai Plastik
Next articleNasdem Nilai PKS dan Gerindra Tidak Dewasa Soal Wagub DKI