Kisruh Tampang Boyolali, Kubu Jokowi Minta Prabowo Santun Berpolitik

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto saat berbicara kepada wartawan di Posko Jokowi-Ma'ruf Amin, Jl. Cemara No. 19, Jakarta Pusat, Senin (27/8/2018)

Jakarta, PONTAS.ID – Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto mengatakan reaksi masyarakat Boyolali yang merasa martabatnya dilecehkan melalui pernyataan Capres Prabowo Subianto, harus menjadi pembelajaran dalam berpolitik. Khususnya dalam pemahaman budaya Timur dan tata krama berpolitik yang cerdas.

“Mungkin karena Pak Prabowo lama hidup di luar negeri, jadi kurang paham budaya Indonesia. Tidak memahami tepo seliro dalam budaya Jawa karena menghabiskan masa kecilnya di negara Barat,” katanya di Media Centre TKN Jokowi-Ma’ruf Amin, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (6/11/2018).

Ditambahkan Hasto, semua pihak harus menyadari disiplin berbicara dan pemahaman budaya bangsa itu sangat penting. Sebab, dalam kontestasi politik yang bermartabat, isu terkait perbedaan kelas sebaiknya dihindari.

“Calon presiden, seharusnya mengusung gagasan yang optimis untuk menggelorakan harkat dan martabat rakyatnya sehingga, punya kebanggaan sebagai warga negara Indonesia,” katanya.

Sekjen PDIP ini menegaskan, gaya keras pidato Prabowo dengan model mempertentangkan kelas merupakan kemunduran kualitas demokrasi.

Prabowo, kata dia, harus paham bahwa menjadi petani, pedagang pasar, tukang jamu, bahkan tukang sapu adalah kerja yang bermartabat selama dilakukan dengan penuh rasa percaya diri.

“Tukang sapu pun punya tugas penting membersihkan lingkungan dan mampu memerindah alam raya. Hal inilah yang seharusnya dilihat Pak Prabowo. Sayang beliau kurang memahami kultur Timur seperti ini,” katanya.

Reaksi Wajar
Menanggapi respons Bupati Boyolali Seno Samodro yang hadir pada aksi unjuk rasa terkait ‘Tampang Boyolali’ menurut Hasto hal itu masih dalam batas wajar.

“Beliau mengawal rakyatnya. Dengan demikian demonstrasi berlangsung tertib dan damai,” imbuhnya.

Apa yang dilakukan Seno lanjut Hasto tak lepas dari pendidikan politik untuk menyampaikan pesan kepada para pemimpin dan calon pemimpin.

“Jadi, Pak Prabowo ke depan agar berhati-hati dalam berbicara dan jangan eksploitir kemiskinan rakyat hanya untuk tujuan kekuasaan politik,” katanya.

Hasto juga menilai, gugatan yang ditujukan kepada Bupati Boyolali yang dilakukan oleh pendukung capres Prabowo adalah berlebihan.

“Dari kasus tersebut, sebaiknya kita mengambil pelajaran tentang pentingnya tata krama politik dan perlunya bagi pemimpin politik untuk memahami kultur budaya bangsanya sendiri,” tegas Hasto.

Sebelumnya, masyarakat Boyolali, Jawa Tengah, bereaksi termasuk berunjuk rasa atas pernyataan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto bahwa tampang orang Boyolali kampungan dan tidak pernah masuk hotel. Pernyataan itu dinilai telah melecehkan masyarakat Boyolali.

Penulis: Stevanny Andriani
Editor: Pahala Simanjuntak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here