Indramayu, Pontas.id – Munculnya dua pejabat asal Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon yang dikabarkan akan mengisi jabatan strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indramayu menjadi perbincangan di kalangan pejabat maupun politisi setempat. Kebijakan tersebut dinilai memunculkan pertanyaan mengenai pemanfaatan sumber daya manusia (SDM) lokal.
Seorang sumber dari kalangan politisi Indramayu yang enggan disebutkan namanya mengaku menyayangkan adanya rencana tersebut.
“Uwis gah mas, Plt di Indramayu mah wis ana sing nguwadahi,” ujarnya menggunakan bahasa Jawa yang kurang lebih artinya adalah bahwa PLT Indramayu sudah ada yang mengatur.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sumber lain yang juga meminta identitasnya dirahasiakan, dua nama dari Kabupaten Cirebon disebut-sebut telah dipersiapkan untuk menduduki jabatan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) serta Kepala Badan Keuangan Daerah (BKD).
“Sudah fix muncul dua nama itu. Nantinya mereka dipersiapkan untuk menduduki jabatan Sekretaris Daerah,” kata sumber yang mengaku dekat dengan lingkungan Pendopo Indramayu, Rabu (15/7/2026).
Sumber tersebut juga menyebut Kepala BKPSDM Kabupaten Indramayu, Muhammad Zaenal Mutaqien, dikabarkan turut mendampingi proses administrasi kedua pejabat tersebut ke Badan Kepegawaian Negara (BKN).
“Restu dari BKN ini yang akan dijadikan modal untuk diteruskan kepada Bupati Indramayu hingga melantik keduanya secara definitif,” ujarnya.
Menurut sumber, kondisi tersebut memunculkan kesan bahwa Kabupaten Indramayu tidak memiliki SDM yang layak mengisi jabatan strategis.
Selain itu, ia juga menyinggung penunjukan Arya Tenggara sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas PUPR Kabupaten Indramayu menggantikan Maulana. Menurutnya, penunjukan tersebut menunjukkan adanya campur tangan pihak-pihak tertentu di lingkungan Pendopo.
“Kami menilai Arya saat ini berasal dari Bagian Umum. Sementara jabatan pimpinan di PUPR seharusnya diisi orang yang matang di lapangan dan memiliki kompetensi di bidang pekerjaan umum,” katanya.
Sementara itu, Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Indramayu, Endang Effendi, turut menyoroti isu tersebut. Menurutnya, Kabupaten Indramayu masih memiliki banyak aparatur yang layak menduduki jabatan strategis.
“Masih ada SDM di Kabupaten Indramayu yang sangat layak untuk menduduki jabatan strategis tersebut. Kenapa harus mengambil dari luar Kabupaten Indramayu yang belum memahami karakter masyarakatnya?” ujar Endang.
Ia juga menilai pelaksanaan uji kompetensi (ujikom) talenta yang melibatkan dua pejabat dari Kabupaten Cirebon menimbulkan persoalan dari sisi moral, meskipun secara regulasi dimungkinkan.
“Hal itu sangat memprihatinkan dan cacat moral. Meskipun secara aturan dibolehkan, tetapi secara moral patut dipertanyakan,” katanya.
Endang mempertanyakan alasan pemerintah daerah melibatkan pejabat dari luar daerah dalam proses tersebut.
“Apakah di Indramayu sudah tidak ada orang pintar? Apakah sistem birokrasi di sini tidak mampu menghasilkan orang yang kompeten sehingga harus mencari calon kepala dinas dari kabupaten lain?” ujarnya.
Sebagai putra daerah, Endang mengaku kecewa dan berharap pemerintah lebih memberikan kesempatan kepada aparatur maupun SDM asal Indramayu.
“Terus terang saya kecewa sebagai orang Indramayu yang berproses di Indramayu. Mau sampai kapan kita impor terus ini?” ucapnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala BKPSDM Kabupaten Indramayu, Muhammad Zaenal Mutaqien, membantah tudingan bahwa dirinya mengawal dua pejabat asal Cirebon untuk menduduki jabatan strategis di lingkungan Pemkab Indramayu.
Menurut Zaenal, pertimbangan utama adalah kebutuhan daerah terhadap aparatur yang memiliki kompetensi dan jaringan luas guna mempercepat pembangunan.
“Tidak ada kepentingan, Mas. Zaenal itu apalah. Yang kami lihat adalah kompetensi, dan itulah yang dibutuhkan Indramayu bila ingin mengejar ketertinggalannya,” kata Zaenal.
Ia menambahkan, kondisi Kabupaten Indramayu yang masih menghadapi persoalan tingginya angka kemiskinan serta rendahnya investasi menjadi alasan perlunya menghadirkan SDM yang dinilai memiliki kapasitas dan jejaring yang lebih luas, termasuk hingga tingkat internasional.
Penulis: Cartono
Editor: Fajar Virgyawan Cahya
















