Di Papua Kementan Klaim Berhasil Kembangkan Pertanian Lokal

Jakarta, PONTAS.ID – Kementerian Pertanian (Kementan)  mengakui berhasil lakukan pengembangan ekonomi lokal di Provinsi Papua. Salah satu kegiatan tersebut yaitu peningkatan kedaulatan pangan lokal dan pengembangan lumbung pangan nasional di Merauke, Papua.

“Dukungan pengembangan tanaman pangan dilakukan dalam bentuk budidaya komoditas, Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO), Pengendalian Hama Terpadu (PHT), sertifikasi, distribusi Rice Milling Unit (RMU) serta peralatan pasca panen dan pengolahan lainnya,“ ujar Kepala Biro Humas dan Informasi Publik, Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Di Papua, sebut Kuntoro, Kementan telah berhasil mengembangkan 28.305 hektare pertanaman dan mendistribusikan saprodi sejumlah 2.696 unit selama periode 2015-2018. Produksi padi dan kedelai meningkat masing-masing 54.376 ton dan 5.998 ton atau naik sebesar 23 persen dan 93 persen.

Sementara itu di Papua Barat, lanjut kuntoro, seluas 14.537 hektare tanaman pangan telah dapat dikembangkan dan sejumlah 12.636 sarana dan prasarana telah didistribusikan pada periode 2015-2018. Peningkatan produksi padi sejumlah 2.517 ton atau 8,33 persen dan jagung sejumlah 1.954 ton atau 86,31 persen.

“Untuk kegiatan pengembangan komoditas hortikultura dilaksanakan di Kabupaten Biak Numfor, Merauke, Kerrom, Lanny Jaya, Nabire, Tambraw dan Sorong. Dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2018, Kementan telah berhasil mengintensifkan dan menambah luasan dari 235 hektare menjadi 1.048 hektare atau naik menjadi 1.283 hektare,” sebut dia.

Kuntoro menambahkan pengembangan komoditas perkebunan pada periode tahun 2014 hingga 2018 dilaksanakan dengan rata-rata alokasi anggaran sebesar Rp 9,25 miliar dan rata-rata fisik volume seluas 1.420 hektare. Kinerja serapan pembangunan perkebunan di Provinsi Papua mencapai rata-rata 83,75 persen per tahun.

“Sedangkan kinerja capaian fisik mencapai 78,76 persen. Kinerja ini di tahun 2018 posisi Triwulan III,” ucapnya.

Lebih lanjut, Kuntoro mengatakan kegiatan KRPL diharapkan dapat mendorong kegiatan percepatan penganekaragaman dan konsumsi pangan serta memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Kegiatan ini dilakukan melalui pembangunan kebun bibit, demplot, dan kebun sekolah.

“Kegiatan KRPL pun mengutamakan sumber daya lokal disertai dengan pemanfaatan pengetahuan lokal dengan pembiayaan per kelompok sebesar Rp 50 juta,” tuturnya.

Di tahun 2018 Kementan telah mengalokasikan anggaran kegiatan KRPL sebanyak Rp 115 miliar untuk 2.300 kelompok tani yang tersebar di 33 provinsi. Untuk Papua dan Papua Barat total alokasi angaran kegiatan ini sebesar Rp 8,65 miliar. Alokasi untuk Papua sebesar Rp 5,2 miliar ke 16 kabupaten, 104 kelompok tani.

“Sedangkan Papua Barat sebesar Rp 3,45 miliar untuk 12 kabupaten, 69 kelompok,” ungkap Kuntoro.

 

Editor: Idul HM

Previous articlePemerintah Terapkan Aturan Baru Kelulusan CPNS Gantikan Sistem Passing Grade
Next articleJelang Pemilu, Ketua DPR Ajak Elemen Bangsa Bersatu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here