Kendalikan Impor Jagung, RI Rugi Rp17 Triliun per Tahun

Tanaman Jagung ( foto: Ist).

Jakarta, PONTAS.ID – Kementerian Pertanianan berupaya mengendalikan impor jagung. Impor ini terus menurun setidaknya sejak 2016. Bahkan sejak 2017 Kementan mengklaim sudah menyetop impor. Namun di sisi lain, hal tersebut dianggap merugikan.

Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka) menghitung kerugian akibat pengendalian impor adalah Rp 17,4 triliun per tahun. Mengapa demikian? Itu karena di balik pengendalian impor jagung, impor gandum untuk pakan justru naik.

“Selama periode 2013-2018, impor jagung turun rata-rata 13,8%. Ini pemerintah bisa klaim. Tapi periode yang sama, impor gandum pakan rata-rata naik 296% per tahun,” kata Direktur Eksekutif Pataka, Yeka Hendra Fatika dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/11/2018)..

Ia mengatakan, selama periode 2016-2018, pemerintah memang mampu menghemat impor jagung hingga 9,2 juta ton. Tapi di sisi lain impor gandum bengkak jadi 6,35 juta ton.

Impor gandum pakan ini merupakan konsekuensi dari pengendalian impor jagung sebagai bahan baku pakan ternak.

“Kalau ini disebut penghematan sebenarnya pemborosan. Dengan perhitungan harga jagung impor saat ini kita hitung akumulasi pada harga saat ini. Dengan perhitungan harga jagung Rp 3.600 per kg dan gandum Rp 4.500 per kg,” jelasnya.

Jika dihitung dari 9,2 juta ton penghematan impor jagung diakumulasikan dengan harga jagung impor Rp 3.600 per kg, maka hematnya adalah Rp 33,12 triliun. Ditambah dengan peningkatan pendapatan petani Rp 14,7 triliun, total penghematan adalah Rp 47,82 triliun.

Namun, impor gandum 6,35 juta ton dijumlahkan dengan harga impor Rp 4.500 per kg maka uang yang dikeluarkan adalah Rp 28,58 triliun. Pengeluaran juga dihitung dari kenaikan harga pakan ternak rata rata Rp 1.200 per kg.

Dengan memperhatikan akumulasi jumlah pakan ayam selama 2016-2018 sebesar 52,5 juta ton, maka kerugian akibat penerapan kebijakan pengendalian impor jagung sebesar Rp 63 triliun. Ditambah subsidi benih dan pupuk Rp 8,4 triliun.

Biaya impor gandum Rp 28,58 triliun, harga pakan yang naik jadi Rp 63 triliun setelah diakumulasikan, dan subsidi benih Rp 8,4 triliun, maka total pengeluaran Rp 99,87 triliun akibat pengendalian impor jagung. Jika dikurangi penghematan Rp 47,82 triliun, maka sebenarnya Indonesia rugi Rp 52,16 triliun selama 2016-2018.

“Jadi periode 2016-2018, kerugian akibat pengendalian impor jagung per tahun Rp 17,4 triliun,” tambahnya.

Editor: Idul HM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here