Derita Sopir Truk Sampah DKI, Bayar Perbaikan Rogoh Kocek Sendiri

Jakarta, PONTAS.ID – Kepala Suku Dinas (Kasudin) Lingkungan Hidup dan Kebersihan (LHK) Jakarta Utara, Slamet Riyadi, mengakui tidak memiliki anggaran menutupi biaya kerusakan truk pengangkut sampah yang mengalami kecelakaan. Bahkan, usulan sejak tahun 2016 silam agar truk sampah diberikan asuransi, tak kunjung mendapat respon positif dari Badan Pengelola Aset Daerah (BPAD) DKI Jakarta.

“Sudah kita usulkan agar truk pengangkut sampah juga dilengkapi asuransi sejak dua tahun lalu, tapi tak kunjung mendapat respon dari BPAD DKI. Mudah-mudahan tahun 2019 soal asuransi ini disetujui,” kata Slamet Riyadi saat ditemui PONTAS.id di ruang kerjanya, Kamis (1/11/2018).

Akibatnya lanjut Slamet, biaya kerusakan kategori kecil hingga sedang ditanggung sendiri oleh pengemudi dan untuk kerusakan berat akan ditanggung bersama-sama dengan paguyuban pengemudi serta para pegawai Sudin LHK Jakarta Utara dengan cara urunan.

Menurut Slamet, terkait biaya penggantian pelumas yang ditanggung pengemudi sebenarnya tidak perlu, lantaran jarak tempuh dari Jakarta Utara ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang tidak jauh, sehingga tidak harus diganti.

Selain itu, untuk penggantian pelumas dan perawatan berkala, pihaknya lanjut Slamet, untuk tahun 2018, baru bisa melaksanakan di akhir tahun setelah dana dari Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah (APBD) turun.

“Baru saja anggarannya turun, jadi saat ini kami tengah melakukan pergantian pelumas yang dibutuhkan truk sampah. Kendala lainnya, penggantian pelumas serta perbaikan harus melalui Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) sehingga kami harus menunggu jadwal mereka,” pungkasnya.

Demi Keluarga
Sebelumnya, pegemudi truk sampah dari Sudin LHK Jakarta Utara mengeluhkan biaya yang harus mereka keluarkan untuk memperbaiki serta merawat truk sampah yang dikemudikan.

“Untuk oli (pelumas) kami pakai uang sendiri, tidak ada bantuan dana dari Sudin maupun dari Dinas. Kami tanggung sendiri. Kalau tidak kami tidak bisa bekerja, buntutnya gaji kami pasti dipotong karena tidak kerja,” kata salah seorang pengemudi yang meminta namanya tidak dicantumkan, saat berbincang dengan PONTAS.id beberapa waktu lalu.

Demikian juga jika kerusakan akibat kecelakaan, pengemudi kata dia wajib memperbaiki kerusakan menggunakan uang sendiri.

Saat ditanya kenapa tidak memutuskan berhenti bekerja dengan kondisi tersebut, dia mengaku meski kerap tekor, terpaksa harus melakoni demi menghidupi keluarga.

“Mau tidak mau dijalanin bang, demi keluarga. Dan kalau kami tinggalkan begitu saja, kami bisa dilaporkan ke kepolisian,” pungkasnya.

Penulis: Hasanudin
Editor: Pahala Simanjuntak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here