Puisi Islami ‘Hadrah’ Buka Pagelaran Tari Tradisi Medan Labuhan

Pagelaran "Tari Tradisi Medan Labuhan" di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara Medan, Jumat (31/8/2018)

Medan, PONTAS.ID – Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) menggelar acara yang diberi tajuk “Tari Tradisi Medan Labuhan”, pada Jumat (31/8/2018) di Gedung Utama TBSU.

Pergelaran dibuka dengan sebuah tari Hadrah yang merupakan tari masyarakat pesisir Medan Labuhan bernuansa Islami. Tarian ini diketahui berasal dari negeri Parsi, (Salah satu bagian dari Kerajaan Persia). Hadrah juga berasal dari perkataan Arab yaitu Dzikir yang disertai oleh Kompang atau Rebana Kecil.

Menurut Profesor Taib Osman, Hadrah adalah sejenis puisi rakyat yang mempunyai unsur-unsur keagamaan seperti puisi atau lagu yang dinyanyikan ketika warga Madinah menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW, dari Mekah yang dikenali sebagai lagu “Talla-an Badrun’ alaina”.

Di masyarakat melayu kemudian menjadi pembuka kata seperti ini, ‘Bismillah mula-mula di dalam alam amat mulia, empat belas bulan purnama kami bermain bersama sama.

“Yang menarik dari tarian Hadrah Labuan ini masih ada penarinya yang sudah berumur. Ini luar biasa. Usiannya sekitar tujuh puluhan tetapi masih kuat menari dengan lincah dan gesit,” ujar Kepala TBSU, Denny Hefriansyah.

Acara ini diawali dengan melantukan lagu-lagu melayu oleh Ilham Zais, penyanyi Melayu ternama di Kota Medan. Selain Zulham juga ada Eva Gustama mendapingi Zulham

Gedung berkapasitas 500 orang ini tampak penuh dipadati penonton. Mereka hanyut dalam lantunan lagu-lagu Melayu seperti Cinday, Ondak Kelaut dan beberapa lainnya.

Karya Seniman Tua
Acara ini dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Parawisata Sumut, Hidayati, dalam sambutannya Hidayati mengatakan bahwa kesenian tradisi harus terus diberi nyawa agar tetap hidup sepanjang zaman. Namun tentunya masih jauh dari sempurna.

“Kita masih banyak kekurangan disana sini. Oleh karena itu dirinya menghimbau agar seniman terus berkarya. Buat tari baru agar kita semakin kaya dengan ragam dan gerak,” ujar Hidayati.

Dalam kesempatan itu Hidayati juga mengatakan di Medan Utara banyak lahir seniman tari yang potensial seperti Lilik dan Maisyarah. Hidayati juga mengajak agar semua juga mengingat seniman -seniman tua yang telah banyak berjasa melahirkan karya-karya bagus yang hingga kini karya tersebut masih abadi semisal Serampang 12.

“Kita banyak memiliki seniman tari yang telah melahirkan karya tari fenomenal seperti tari Serampang 12. Kini tugas kitalah merawat tari-tari ini agar tidak punah,” pungkasnya.

Penulis: Ayub Badrin
Editor: Hendrik JS

Previous articleMendag: ASEAN Perkuat Kerja Sama dengan Negara Asia Timur
Next articleSebelum Closing Ceremony, Jokowi Bagikan Bonus untuk Atlet Peraih Medali