Bertemu 26 Pengusaha Generasi Kedua, Jokowi Ungkap Kondisi Ekonomi

Jakarta, PONTAS.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan 26 pengusaha yang merupakan anak dari konglomerat papan atas atau pengusaha generasi kedua, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (27/8/2018).

Presiden Jokowi mengakui bahwa ekonomi global saat ini memiliki ketidakpastian yang besar.

“Kalau dulu orang berbicara takut pada perang dagang China-Amerika, sekarang tambah lagi dengan urusan Turki. Dan tidak tahu ada ketidakpastian apalagi yang akan menyebabkan ekonomi dunia semakin tidak menentu,” ujarnya, seperti dilansir SETKAB.go.id.

Artinya, lanjut Presiden, internal perekonomian Indonesa sendiri memang harus diperbaiki. Ia mengemukakan, sekarang ini problem terbesar kita masih ada di defisit transaksi berjalan (current account deficit) yang memang sudah lama sekali tidak diperbaiki.

“Saya kira kita akan fokus ke sana, termasuk terutama juga di neraca perdagangan, dan yang kedua keseimbangan primer. Dan saya pemerintah yakin dapat menyelesaikan ini dalam setahun ke depan,” kata Presiden.

Diakui Presiden, ternyata masih banyak hal yang belum dilakukan. Ia mencontohkan penerapan Biodiesel 20 (B20), yang kalau bisa dilaksanakan, Indonesia akan mendapatkan 6 miliar dollar AS, lalu volume naik juga dapat 5 miliar dollar AS.

“Artinya, karena harga naik, dari satu hal itu saja kita sudah bisa dapat 11 (miliar). Hal-hal seperti ini yang nggak pernah dihitung secara detil,” terangnya.

Target Pariwisata
Presiden juga mencontohkan soal pariwisata nasional saat ini yang diharapkan dapat mencapai target 17 juta kunjungan wisatawan hingga akhir tahun 2018.

“Wong Thailand bisa 34 (juta) bisa, kenapa kita nggak bisa paling tidak menyamai mereka? Saya kira kita juga mampu,” ucap Presiden.

Namun diakui Presiden, memang harus lebih detail, produknya diperbaiki, kemasannya diperbaiki, dan itu menjadi PR (pekerjaan rumah) kita bersama, baik di Kadin pusat maupun di daerah.

Presiden meyakini, masih banyak sekali peluang-peluang untuk perbaikan-perbaikan.

“Tetapi intinya, kita ingin tidak melulu konsentrasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi yang lebih penting menurut Presiden, adalah kualitas pertumbuhan ekonomi itu sendiri,” pungkasnya.

Editor: Hendrik JS

Previous articleKemenperin Bentuk Badan Pengembangan SDM Industri
Next articleAstra Jadi Sponsor Utama Indonesia di Dubai Expo 2020