Jakarta, PONTAS.ID – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) optimis Light Rail Transit (LRT) Sumatera Selatan akan selesai dan dioperasikan pertengahan Juli 2018. mendukung perhelatan Asian Games 2018.
Jenis pekerjaan LRT ini, sangat bervariasi mulai dari pekerjaan konstruksi, stasiun, sarana, depo yang luas, penanganan tanah yang disebabkan oleh karakteristik yang berbeda serta pekerjaan yang memerlukan penguasaan teknologi tinggi baik untuk jenis sarana, infrastruktur dan sistem fasilitas operasinya
“Di mana secara keseluruhan berupa konstruksi layang (elevated track) dengan dilengkapi third rail untuk power supply serta menggunakan teknologi slab track (tanpa ballast) pada jalur rel serta menggunakan sistem persinyalan fixed Block,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Kemenhub, Zulfikri, melalui keterangan resminya yang diterima PONTAS.id, Minggu (24/6/2018).
Zulfikri menegaskan, LRT ini berbeda dengan LRT Jabodebek yang menggunakan U-shaped Girder. LRT Sumsel kata dia menggunakan I Girder. Selain itu, lebar spoor LRT Sumsel adalah 1.067 mm sedangkan LRT Jabodebek dan LRT Jakarta lebar spoor-nya adalah 1.435 mm.
“Itulah penyebab perbedaan karakteristik jenis konstruksi tersebut di atas mengakibatkan adanya variasi biaya konstruksi masing-masing LRT yang telah sesuai dengan harga pasar,” jelas Zulfikri.
Terkait nilai investasi secara keseluruhan dalam pembangunan LRT Sumsel ini, merupakan total biaya sarana dan prasarana LRT yang tidak dapat terpisahkan. Dia pun menekankan, nilai investasi LRT Sumsel apabila dibagi panjang jalur kereta api tersebut cukup realistis dan telah dilakukan perbandingan dengan negara-negara di kawasan ASEAN.
“Sebagai contoh, seperti di Malaysia biaya untuk pembangunan LRT Kelana Jaya Line diketahui sebesar Rp817 miliar per-Km sedangkan untuk biaya pembangunan LRT di Manila sebesar Rp907 miliar per-Km,” jelasnya.
Review Berlapis
Zulfikri juga memastikan, anggaran yang digunakan dalam pembangunan LRT Sumsel ini, telah diproses secara akuntabel dimana telah dilakukan review secara berlapis mulai dari review oleh konsultan independen yang berkualifikasi internasional, audit internal maupun audit eksternal oleh instansi terkait agar sesuai dengan prinsip Good Coorporate Governance.
“Sebelumnya, usulan pembiayaan untuk proyek LRT ini oleh kontraktor awalnya diajukan sebesar Rp12 triliun, namun setelah melalui beberapa tahapan review biaya tersebut dapat ditekan menjadi 10,9 triliun,” kata Zulfikri.
Dalam pelaksanaan pembangunannya, kata Zulfikri, PT. Waskita Karya (Persero) dibantu oleh konsultan pengawas (supervisi) yang berkualifikasi Internasional yakni SMEC Internasional asal Australia.
“Perusahaan tersebut telah mempunyai pengalaman yang cukup luas di beberapa negara di kawasan Asia, Australia, dan Afrika, Eropa, serta Amerika,” pungkasnya.
Editor: Hendrik JS




























