Jakarta, PONTAS.ID – Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri berharap agar pada peringatan Hari Buruh yang digelar pada 1 Mei nantinya tidak dicampuri oleh kepentingan politik suatu pihak, terutama yang berkaitan dengan Pilpres 2019.
“Saya enggak mikir terlalu jauh, lah. Mudah-mudahan enggak,” kata, Senin (30/4/2018).
Sedangkan adanya kemungkinan pada perayaan Hari Buruh tersebut bakal menyuarakan usulan agar mencopot dirinya dari kabinet, Hanif mengaku tak mempedulikannya.
Saya enggak mikir yang kayak begitu-begitu. Pokoknya saya amanah, saya kerja sebaik-baiknya, cuma itu aja. Kalau yang lain-lain saya enggak urus,” ucap Hanif.
Ia mengingatkan untuk melakukan perjuangan dengan riang gembira sehingga akan timbul rasa optimis pada buruh atas apa yang tengah diperjuangkannya pada perayaan yang sering disebut dengan May Day itu.
“Itulah makanya kita pakai tagline May Day is a fun day,” ucap Hanif.
Menurut Hanif, setiap buruh punya hak untuk merayakan May Day dengan kegiatan apa pun. Artinya, buruh tidak harus melakukan demontrasi atau unjuk rasa pada peringatan Hari Buruh.
“Ada yang bilang, ‘May Day kok mancing, May Day ya demo’. Nah, itu monggo, yang mau demo silakan asal tertib, yang mau mancing silakan, mau liburan keluarga silakan,” kata Hanif.
Ia mengingatkan agar tidak ada yang merasa paling benar. “Jangan menganggap paling benar. Yang penting itu,” lanjutnya.
Sementara itu, Sekretaris Jendral Kelompok Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) Daman Panca mengatakan jika akan ada 150 ribu buruh akan berdemontrasi secara nasional di 18 provinsi. 30 ribu diantaranya melakukan unjuk rasa di Jakarta.
Aksi di ibu kota rencananya berupa long march dari Bunderan Hotel Indonesia (HI) menuju Istana Negara, yang kemudian dilanjutkan ke kantor Organisasi Buruh Internasional PBB (ILO). Aksi ini dilakukan sejak pukul 09.00 WIB.




























