Kelola Garam Secara Holistik, Jangan Terjebak Dalam Politisasi

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Agung Kuswandono dalam pidato Pembukaan Seminar Nasional Transformasi Tata Kelola Garam Nasional Menuju Swasembada Garam,Surabaya (19 April 2018).

Jakarta, PONTAS.ID – Garam harus dikelola secara holistik. Hal ini disampaikan oleh Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam dan Jasa Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Agung Kuswandono dalam pidato Pembukaan Seminar Nasional Transformasi Tata Kelola Garam Nasional Menuju Swasembada Garam, Surabaya (19/4/2018).

“Saya kira pemerintah tidak mau terjebak di dalam politisasi. Pemerintah akan mengupayakan agar baik petani maupun industri tidak ada yang dirugikan” unkap Agung.

Agung dalam paparanya, mengajak para peserta  untuk fokus dengan mengelola garam secara holistik  tidak setengah-setengah. Tidak berpikir secara sepihak tetapi  betul-betul berpikir kebutuhan industri serta produksi garam nasional.

“Garam itu fungsinya tidak hanya  mengasinkan makanan tetapi penting untuk industry, baik itu industri pangan, industri sandang dan industri papan. Artinya, garam itu sangat penting fungsinya. Saya  ingin mengajak Bapak/Ibu sekalian kepada satu kesepakatan bahwa industri garam  tidak hanya garam yang dipanaskan, lalu dijual  tetapi garam yang menjadi bagian dari bahan baku  dan bahan penolong bagi berbagai macam industry.” Papar Agung.

Agung menekankan, pentingnya data yang valid terkait garam. “Mohon Maaf, tapi sekarang semua punya data sendiri-sendiri. Kita harus punya satu database yang menjadi acuan bersama sebagai database garam nasional,  data distribusi garam, Data produksi garam. Kalau data kita valid, kita tidak perlu ribut bila  kita harus impor garam. Karena kita punya data yang betul-betul jelas.” ujar Agung.

Lanjut Agung, Sekarang KKP punya sendiri, Kemendag punya sendiri, bgitu juga Lembaga-lembaga lain, sayangnya datanya tidak sama. Untuk itulah kepada teman-teman terutama KKP. (Kementerian) Perindustrian, (Kementerian) Perdagangan,  BPS dan pihak-pihak lain yang terkait industri garam ini,  mari kita buat database garam nasional yang valid.

Agung menambahkan, diperlukan kerja sama lintas instansi pemerintah agar database dimaksud dapat terwujud. Hal ini dimaksudkan supaya pemerintah punya pegangan untuk mengidentikasi masalah di lapangan dan menyiapkan solusi yang tepat.

Distribusi Garam
Masalah distribusi garam juga disorot Agung.  Meskipun Indonesia masih melakukan impor garam, Agung menginginkan pengawasan ketat, peruntukan, dalam arti importir garam harus yang mempunyai pabrik (industry) yang membutuhkan garam untuk terus berproduksi.

“Jadi kalau impor harus langsung menghubungi pabriknya yang bersangkutan.  Sehingga pabrik itu langsung mengolah jadi  insya Allah tidak akan ada masalah. Kita mensejahterakan petani dan tambak garam sekaligus menjaga keberlangsungan indsutri-industri kita” jelas Agung.

Dorong Petani Garam
Agung menyampaikan, bahwa umumnya teknologi yang digunakan petambak sangat sederhana. Karena terlalu sederhana maka garam yang dihasilkan pun biasa saja, belum memenuhi standar kualitas yang diharapkan.

“Harus ada perubahan teknologi yang akan mengubah pandangan ataupun kebiasaan petani dan cara kerjanya. Ini yang harus kita perbaiki dan pemerintah harus terlibat didalamnya.”
Kemenko Maritim terus mendorong petambak garam untuk memberikan nilai tambah pada produknya.

Salah satu produk andalan adalah garam spa, garam mandi yang dapat diproduksi dalam bentuk usaha rumahan tapi berpotensi untuk menembus pasar internasional sebagai produk relaksasi.

“Bayangkan, bila waktu masih jadi garam krosok harganya cuma 200 rupiah sekilo, tapi kalau sudah jadi garam spa, 1 pot berat 200gram harganya bisa 30.000 rupiah,” ungkap Deputi Agung.

” kami memahami kalau diperlukan investasi besar untuk meningkatkan kualitas garam untuk memiliki standar setinggi garam industry dan farmasi. Tapi hal ini bukan berarti tidak ada alternative, salah satu yang layak dicoba adalah industri rumahan garam spa, garam sebagai souvenir. ”

Agung mengatakan, Di Cirebon sudah dibuat  dan sudah dipasarkan.  nanti saya akan ajak para pengusaha menggunakan CSRnya,  itulah kemitraan  dan pelatihan. Bila tidak mampu, jangan memaksakan diri untuk membuat garam farmasi yang membutuhkan investasi sangat besar.

“Mari kita bersama ciptakan dan angkat derajat para petani petambak garam sekaligus menjaga keberlangsungan industri-industri kita yang membutuhkan garam sebagai bahan baku produksi”. jelas Agung.

Seminar Nasional yang dihelat oleh PT.Garam dan Sinergi BUMN ini menghadirkan Wakil Ketua Ombudsman RI Lelly Pelitasari Subekti, pengamat ekonomi Faisal Basri, Ketua Asosiasi Industri Pemakai Garam Indonesia Tony Tanduk dan Direktur Utama PT.Garam Budi Sasongko.

Industri yang membutuhkan garam memiliki banyak pekerja yang hidupnya bergantung pada industri. Kalau industri mati banyak pengangguran. Padahal kalau industri berjalan lancar, banyak lapangan kerja, ekonomi meningkat, negara mendapatkan pemasukan dari pajak.
Baik petambak garam maupun industri yang membutuhkan garam adalah bagian dari masyarakat yang sama pentingnya.

 

Editor: Idul HM

Previous articleGolkar Tolak Usulan Pansus TKA
Next articleLuhut: DPR Sudah setujui Anggaran Pertemuan Tahunan IMF-World Bank

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here