Kemarau Jadi Berkah Bagi Petani Garam di Jateng

Industri Garam, ( ist).

Jakarta, PONTAS.ID – Musim kemarau tidak mesti bencana atau menyulitkan. Bagi petani garam musim kemarau panjang ini menjadi berkah tersendiri karena saat ini mengalami panen raya dan produksi garam petani meningkat tajam dibanding sebelumnya.

Senyum lebar Maryanto, 45, petani gatam di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah saat ditanyakan hasil panen garam di musim kemarau ini. Meskipun terik matahari terasa menyengat di atas kepala, ia tampak tak bergeming mengeruk butiran garam berwarna kecoklatan dari ladang berukuran 15 x 25 meter miliknya.

Topi kain berukuran lebar sebagai penahan terik matahari sudah terlihat basah oleh keringat. Demikian juga wajahnya terlihat berkilau ketika diterpa sinar tidak terlalu dipedulikan.

Dibantu dua anak lelakinya tangan Maryanto yang kasar tertutup kaos warna coklat lengan panjang tidak henti-hentinya memindahkan butiran garam dari sudut ladang ke dalam tombong (keranjang bambu) berukuran cukup besar.

“Panen musim ini cukup besar, di lahan kami ini jika panen sebelumnya hanya menghasilkan sekitar 30 tombong berisi 80-90 kilogram, namun saat ini bisa memanen garam hingga 50 tombong,” kata Maryanto.

Hal senada juga diungkapkan oleh Fahrizi, 53, petani di Desa Tanggultlare, Kecamatan Kedung, Kabupayen Jepara yang menggatap 3 hektare lahan dan mampu menghasilkan 180 ton garam. Walaupun panen raya garam yang meningkat tajam ini tidak seindah bayangannya karena harga garam krosok di tingkat petani merosot tajam.

Jika sebelumnya harga garam krosok cukup menjanjikan tetapi saat panen raya ini terus merosot. Menurutnya, dari sebelumnya Rp110.000 per tombong, harga terus menurun menjadi Rp100.000 per tombong dan sekarang hanya dihargai Rp80.000 per tombong.

Meskipun demikian, lanjut Fahrizi, di tengah musim kemarau panjang yang hampir tiga bulan tidak turun hujan ini, ratusan petani garam di Jepara yang menggarap sekitar 507 hektare ladang garam hasil panennya cukup baik, sehingga secara keseluruhan mampu menutupi modal usaha ini.

Demikian juga dialami petani garam di Pati. Kemarau ini cukip membawa berkah karena panen yang berlampah meskipun harga merosot hingga Rp850 per kilogram.

“Panen besar tapi harga anjlok hingga secara hitungan pendapatan tetap sama saja,” kata Sardi, 39, petani garam Desa Genengmulyo, Kecamatan Juwana, Pati.

Sementara itu data dihimpun produksi garam tahin ini memang cukup tinggi baik di Rembang maupun Jepara, sehingga kondisi jni cukup memggairahkan para petani garam setempat meskipun harga menurun dibanding musim lalu.

Di Kabupaten Rembang ladang garam yang yerkonsrntrasi di 6 kecamatan di sepanjang pantura mulai Kaliori hingga Lasem tersebut saat ini mencapai 1.465 hektare yang melibatkan 781 pemilik lahan dengan 4.739 petani penggarap mampu memproduksu 120.000 – 235.000 ton per tahun.

Namun saat musim panen raya seperti saat ini, harga garam krosok (kasar), harga garam merosot tajam hingga 50% yakni dari Rp1.600 per kilogram saat awal musim panen menjadi Rp800 per kilogram saat ini.

Menghadapi anjloknya harga garam ini, baik petani garsm di Rembang maupun Jepara memilih mengerjakan ladangnya bersama keluarga daripada menggunakan buruh musiman. Hal itu dapat kebih menghemat pengeluaran dibanding harus menpekerjakan orang lain.

“Meskipun tidak secepat jika diburuhkan, namun lebih dapat menekan pengeluaran,” ujar Harjadi, 56, petani di Dorokandang, Lasem, Rembang.

Jika melihat kualitas, panen garam musim ini cukup bagus karena kemarau cukup panjang, selain kristal garam lebih bersih juga lebih asin.

Editor: Idul HM

Previous articleJadikan Pemilu 2019 Pesta Demokrasi, Bukan Ajang Caci Maki
Next articleDemokrat Tak Pernah Instruksikan Andi Arief Mangkir dari Pemanggilan Bawaslu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here