EmrusCorner Acungi Jempol Lagu Anti Hoax Polda Sumut

Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner, Emrus Sihombing

Jakarta, PONTAS.ID – Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner, Emrus Sihombing mengacungi jempol lagu “Saya Indonesia, Saya Anti Hoax” yang menurut Emrus merupakan hasil karya Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol. Paulus Waterpauw.

“Polda Sumut, seperti yang dibuat oleh Kapoldanya, lewat lagu bertajuk ‘Saya Indonesia, Saya Anti Hoax’ telah berkontribusi mengatasi persoalan bangsa terkait dengan maraknya hoax belakangan ini,” kata Emrus melalui pesan tertulisnya yang diterima PONTAS.id, Rabu (11/4/2018).

Menurut Emrus , lagu tersebut telah viral. Publik luas sudah mengetahui lagu tersebut. Untuk itu, perlu upaya selanjutnya agar lagu ini disukai oleh semua masyarakat di Indonesia dengan menyanyikan lagu tersebut sebelum dan atau setelah sebuah acara formal berlangsung.

“Dengan demikian, isi lagu tersebut meresap dan menjadi kebiasaan dalam perilaku keseharian setiap WNI,” imbuhnya.

Emrus mencontohkan, lagu tersebut dapat dinyanyikan di tengah acara adat pernikahan orang Batak, sebagaimana lagu ‘Anak Medan’ yang kerap dinyanyikan dalam acara tersebut.

Kontribusi dalam bentuk lagu tersebut, lanjut Emrus, sesungguhnya menggunakan kearifan lokal Sumut, sebab, masyarakat Sumut sangat dekat dengan musik dan lagu, “Karena itu, lagu ini sangat efektif menolak hoax di Indonesia, khususnya di Sumut,” terang dia.

Tidak Bertanggungjawab
Terkait fenomena sosial media dan berita Hoax, Emrus mengatakan, awal munculnya sosial media, awalnya diharapkan sebagai jawaban terhadap kekuatan media massa arus utama (suratkabar, majalah, tabloid, radio dan televisi).

Media massa arus utama selama ini kata dia mendominasi ruang publik dengan mengelola berbagai bentuk kemasan tulisan dan acara melalui proses Agenda Setting Media, Framing dan Gatekeeping Process.

“Itulah yang membuat media arus utama ini mempunyai pengaruh terhadap persepsi publik atau kemampuan yang luar biasa membentuk realitas sosial tertentu,” kata dia.

Namun, sosial media, kata Emrus, acap kali digunakan oleh orang yang tidak bertanggungjawab menyebarkan hoax dan ujaran kebencian di ruang publik, “Bahkan seakan terjadi ‘perang udara’ lewat dunia maya,” imbuhnya.

Disfungsi Media
Menurut dia, penggunaan sosial media semacam itu sesungguhnya merupakan disfungsi media yang dapat menyesatkan opini masyarakat, ketegangan sosial, dan pembodohan publik melalui manipulasi persepsi khalayak.

Karena itu, dia berharap penggunaan sosial media semacam ini harus dilawan bersama dengan gerakan semesta oleh seluruh WNI di manapun berada, utamanya pegawai negeri sipil, pejabat birokrasi, pejabat pemerintah dan pejabat publik lainnya yang gajinya bersumber dari APBN agar mewacanakan dan mem-viral-kan lewat sosial media tentang anti hoax dan ujaran kebencian.

“Agar gerakan ini berlangsung masif, bagi pegawai serta pejabat publik yang mengambil peran melawan hoax dan ujaran kebencian menjadi bagian dari nilai kinerja orang yang bersangkutan,” pungkasnya.

Penulis: Pahala Simanjuntak
Editor: Hendrik JS

Previous articlePresiden: Tol Bocimi Percepat Akses Logistik ke Selatan Jawa Barat
Next articlePositif Tilletia tritici, 23 Ribu Ton Gandum Diawasi Karantina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here