Pengamat: Saya Respect Sama Jonan Soal Kereta Api, Lainnya Kacau!

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Faisal Basri. (Foto: Suara.com)

Jakarta, PONTAS.ID – Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Faisal Basri, melontarkan kritik pedas kepada Menteri ESDM, Ignasius Jonan terkait proyek jaringan gas (jargas) rumah tangga atau gas kota.

Menurut Faisal, proyek jargas ini hanya akan menguntungkan pemilik pabrik pipa karena secara langsung akan semakin banyak pipa dibutuhkan untuk membangun lebih banyak jargas. Sementara, yang diinginkan oleh rakyat adalah bagaimana menikmati energi secara mudah dan murah.

Untuk diketahui, saat ini Pemerintah memang tengah menugaskan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menggarap proyek jargas, yang ditargetkan bisa membangun sebanyak 4,7 juta sambungan rumah tangga di beberapa wilayah Indonesia hingga 2025. Jargas dipilih sebagai alternatif penggunaan Liqufied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram yang saat ini disubsidi dan pasokannya sebagian diimpor.

“Namanya Jonan, mau nambah program ugal-ugalan baru namanya gas kota. Jadi ada 4,7 juta saluran gas untuk rumah tangga yang akan dibangun sampai 2025. Saya respect sama Jonan soal kereta api, lainnya mah kacau. Dia main-main dengan gas,” kata Faisal, di Jakarta, baru-baru ini.

“Harapannya, gas untuk keadilan buat rakyat, akan dibangun saluran pipa baru yang untung cuma pemilik pabrik pipa, perusahaan pipa. Ribuan kilometer lah panjangnya nanti. Padahal, rakyat cuma peduli energi masuk ke dia,” tutur Faisal.

Selain proyek jargas, Faisal juga mengkritik proyek tol laut. Saat ini, proyek tersebut dinilai tak menunjukkan progres dan hanya menguntungkan pihak galangan kapal.

“Tol laut udah nggak kedengeran nasibnya. Tapi pengadaan kapalnya sudah selesai. Jonan sudah senang deh, pokoknya pengadaan kapalnya sudah beres. Kalau kita bangunnya gini terus, sementara kebutuhan naik, utangnya ya akan naik terus,” tandasnya.

Penulis: Riana
Editor: Idul HM

Previous articleDPR: Pertamina Tak Perlu Libatkan Perusahaan Asing untuk Tangani Oil Spill
Next articleNeraca Perdagangan Migas Masih Tekor, Begini ‘Pembelaan’ ESDM