Jakarta, PONTAS.ID – PDI Perjuangan membantah jika ada ada kadernya yang dituding melakukan perusakan baliho Ketum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Partai Demokrat di Riau.
Selaku sekjen, saya menjalankan perintah Ketua Umum untuk menjaga disiplin anggota dan kader Partai. Kami ini Partai yang berdisiplin. Jadi kami pastikan tidak ada anggota kami yang punya perilaku seperti itu, karena sanksinya sangat tegas dan berat, pemecatan,” kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyantomelalui keterangan tertulis Minggu (17/12/2018).
Hasto lalu menceritakan peristiwa penyerangan kantor PDIP pada 27 Juli 1996 lalu. Hasto mengungkapkan, saat itu partainya tidak mendramatisir penyerangan dan tidak serta menuduh SBY.
“Kami menempuh jalur hukum dan yang kami tuduh adalah pemerintahan yang antidemokrasi-otoriter, meskipun saat itu Pak SBY mungkin mengetahui hal ikhwal serangan itu,” ujar Hasto.
Hasto mengatakan PDIP mengutuk keras berbagai provokasi yang menganggu jalannya tahapan Pemilu 2019, termasuk yang dilakukan dengan cara-cara kotor dengan merusak atribut kampanye Parpol lain.
“PDI Perjuangan tidak pernah main sembunyi-sembunyi. Kami selalu di ruang terbuka. Tidak ada untungnya bagi kami merusak atribut partai lain. Apalagi Demokrat. Sebab kami tidak punya ilmu merusak,” tuturnya.
Untuk itu PDIP dikatakan Hasto meminta penegak hukum untuk mengusut dengan tuntas perusakan baliho SBY dan Demokrat. Hasto juga meminta kadernya untuk semakin waspada terhadap berbagai upaya adu domba.
Apalagi kejadiannya di Riau. Kami tidak sekuat di daerah lain. Ketika bus kampanye Demokrat yang eksklusif, lux dan mahal melintas di wilayah yang menjadi basis PDI Perjuangan pun semua aman-aman saja. Apalagi di Riau. Jadi mari perangi bersama, para penyusup yang mencoba mengadu domba Partai tersebut,” tuturnya.
Jaga Ketenangan
Sementar itu, Capres No urut 01 Jokowi mengajak semua pihak untuk menjaga ketenangan di tahun politik ini.
“Kita siapapun baik itu caleg, parpol, baik itu dalam kontestasi pilpres, mari lah kita jaga ketenangan, kita jaga kesejukan dalam kita memasuki tahun politik ini,” kata Jokowi.
Jokowi mengimbau jangan sampai ada pihak yang memanas-manasi suasana. Apalagi yang menggunakan cara yang tidak beradab.
“Jangan sampai ada yang memanas-manasi dengan cara yang tidak beradab, tidak beretika. Semuanya,” kata mantan Gubernur DKI ini.
“Ini kita bicara untuk semua tim, untuk semua partai, untuk semua caleg, harus saling menghargai dan hormati, baik dalam bertutur kata, dalam pemasangan spanduk, dalam pemasangan baliho, semuanya,” imbuh Jokowi.
Sebelumnya, SBY mengaku kecewa dan sedih spanduk dan baliho Partai Demokrat dan penyambutan dirinya di Pekanbaru ditemukan dalam keadaan tercabik-cabik dan terbuang. Dia merasa heran kenapa diserang padahal tak ikut bertarung di Pilpres 2019.
Begini teman-teman, saya ini kan bukan capres, saya tidak berkompetisi dengan Bapak Jokowi. Kompetisi ini antara Pak Prabowo dengan Pak Jokowi. It is not my war, it is not my competition. Bukan. Tapi mengapa justru saya dan Demokrat yang diserang dan dihancurkan seperti ini. Sekali lagi, ini bukan perang saya, kenapa saya dibeginikan?” kata SBY dalam video yang dikirim Humas PD, Sabtu (15/12/2018).
Editor: Luki Herdian




























