Pertumbuhan DPK Bank Syariah Lampaui Bank Konvensional, BSI: Potensi Besar Harus Terus Dikembangkan

Bank Syariah Indonesia
Bank Syariah Indonesia

Jakarta, PONTAS.ID – Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan syariah sudah melampaui perbankan konvensional dalam waktu lima tahun terakhir. PT Bank Syariah Indonesia Tbk. atau BSI menilai hal ini sebagai potensi besar yang harus terus dikembangkan dan ada 9 segmen utama yang akan dipacu untuk menggenjot pertumbuhan kinerja.

Hal iitu disampaikan oleh Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Hery Gunardi dalam acara seminar nasional yang diselenggarakan oleh Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Menurut Hery, hal tersebut menandakan preferensi masyarakat Indonesia yang semakin menguat terhadap perbankan syariah saat ini.

“Dalam waktu 5 tahun pertumbuhan Dana Pihak Ketiga di bank-bank syariah tumbuh di atas bank konvensional. Dalam kurun waktu tersebut DPK bank syariah tumbuh sebesar 13,8%, sementara bank konvensional 7,8%, jadi kenaikan hampir dua kali lipatnya. Ini adalah potensi pasar yang sangat besar bagi bank-bank syariah Indonesia ke depannya,” kata Hery, Sabtu (19/3/2022).

Hingga akhir 2021, data Otoritas Jasa Keuangan menyebut total DPK perbankan syariah nasional mencapai Rp548,10 triliun. Sedangkan DPK yang berhasil dihimpun BSI pada 2021 mencapai Rp Rp233,25 triliun atau tumbuh 11,12% secara tahunan.

Lebih lanjut Hery mengatakan untuk mengembangkan potensi besar tersebut ada 9 segmen utama ekosistem Islam yang saat ini sedang dikembangkan oleh BSI. Yaitu masjid, haji dan umrah, Zakat, Infak, Sedekah dan Wakaf (Ziswaf), sekolah Islam, fesyen halal, makanan dan minuman halal, layanan kesehatan halal, serta 2 ekosistem terbaru adalah produk ekspor halal dan pariwisata halal.

Mengacu data yang dimiliki perseroan, saat ini ada 278.255 masjid di Indonesia. Dengan jumlah masjid tersebut, terdapat peluang ekonomi syariah dari potensi penghimpunan zakat, infaq, sedekah dan wakaf (Ziswaf) dengan nilai hampir Rp400 triliun. Adapun industri halal di Indonesia potensi nilainya kurang lebih mencapai Rp4.375 triliun. Dari total nilai tersebut, industri makanan dan minuman halal menyedot porsi terbanyak yaitu senilai Rp2.088 triliun.

“Di samping itu, kami juga terus mengembangkan program-program untuk membantu para UMKM untuk bisa naik kelas dan mengembangkan usaha mereka. Kami sudah memiliki UMKM Center di Aceh, yang Insya Allah akan kami buka juga di berbagai daerah ke depannya. Bersama dengan Kementerian BUMN dan Kementerian Koperasi dan UKM, kami juga sudah membuat Talenta Wirausaha BSI,” papar Hery dalam acara bertema Promoting Religious Moderation Values to Encourage Country Sustainable Development Performance; The Economic, Social and Environment Standpoint tersebut.

Penulis: Luki Herdian

Editor: Pahala Simanjuntak

Previous articleBamsoet Apresiasi Trofi MotoGP Mandalika Karya Tuksedo Studio Bali
Next articleMPR Ajak Negara di Dunia Bersatu Hadapi Perubahan Iklim