Jakarta, PONTAS.ID – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia terus menunjukkan perbaikan. Salah satunya, positivity rate di Jawa-Bali saat ini berada di angka 1,28 persen atau di bawah standar badan kesehatan dunia (World Health Organization /WHO) yakni 5 persen.
Hal ini disampaikan Luhut yang juga selaku Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali dalam konferensi pers yang digelar secara daring, Senin (20/9/2021) malam.
“Saat ini angka positivity rate  Indonesia berada di bawah 2 persen. Hal ini lagi-lagi mengindikasikan penanganan pandemi yang sudah berjalan baik dan sesuai acuan WHO,” katanya.
Positivity rate adalah perbandingan antara jumlah kasus positif Covid-19 dengan jumlah tes yang dilakukan.
Ia menuturkan, dalam pelaksanaan PPKM, dengan jumlah kasus sudah turun signifikan ditambah jumlah testing terus mengalami peningkatan berhasil menurunkan positivity rate.
“Ke depan, testing, tracing, dikombinasikan dengan isolasi terpusat menjadi bagian penting untuk mengidentifikasi secara dini potensi penyebaran kasus Covid-19 dan juga penggunaan PeduliLindungi yang makin baik. makin dilengkapi, makin disempurnakan,” katanya.
Luhut juga meyakini Indonesia akan bisa mengendalikan pandemi dengan target tersebut dengan syarat melakukan 3T, 3M, penggunaan PeduliLindungi serta vaksinasi yang masif.
Sementara itu, terkait vaksinasi, menurut dia, berkaca dari pengalaman negara lainnya, vaksinasi menjadi syarat perlu untuk proses transisi dari pandemi menjadi endemi. Pencapaian target cakupan vaksinasi juga sangat penting mengingat vaksin sudah terbukti melindungi dari sakit parah yang membutuhkan perawatan rumah sakit atau kematian terutama untuk para lansia.
Sayangnya, kinerja beberapa kabupaten/kota masih perlu dikejar untuk mencapai target 70 persen dosis 1 dan terutama 60 persen dosis 1 lansia.
“Kami akan bekerja dengan keras untuk mencapai target tersebut karena angka kematian yang kita temukan banyak sekali lansia. Oleh karena itu, lansia kita targetkan untuk dapat vaksin lebih banyak lagi,” tuturnya.
Pertama Kali
Luhut juga memaparkan hasil estimasi dari tim epidemilog Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI yang menunjukkan reproduksi efektif Indonesia untuk pertama kalinya selama pandemi sudah berada di bawah 1, yakni sebesar 0,98.
“Angka ini berarti setiap satu kasus Covid-19, rata-rata menularkan ke 0,9 orang, atau jumlah kasus akan terus berkurang. Angka ini dapat diartikan bahwa pandemi Covid-19 di Indonesia telah terkendali. Ini penilaian dari tim penasehat kami,” katanya.
Capaian kasus harian juga menunjukkan tren yang terus membaik. Tercatat kasus konfirmasi secara nasional pada Senin ini berada di bawah 2.000 kasus dan kasus aktif sudah lebih rendah dari 60 ribu. Untuk Jawa-Bali, kasus harian turun hingga 98 persen dari titik puncaknya pada 15 Juli lalu.
“Jadi saya hanya katakan bahwa angka ini kerja keras semua tim untuk membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Tetapi, tetap Presiden ingatkan kami untuk kita semua super waspada menghadapi ini karena bukan tidak mungkin ada gelombang ketiga,” imbuhnya
Untuk itu, lanjut Luhut, pemerintah akan menjaga kasus harian Covid-19 pada level 2.700-an hingga 3.000-an kasus guna mengantisipasi agar tidak sampai terjadi gelombang ketiga.
Angka tersebut kata dia didapat berdasarkan salah satu studi “Multiwave pandemic dynamics explained: how to tame the next wave of infectious diseases”
“Dalam studi tersebut, jumlah kasus disarankan ditahan pada tingkat 10 kasus per juta penduduk per hari, atau dalam kasus Indonesia berkisar 2.700 atau 3.000-an kasus,” ungkapnya.
Gelombang Ketiga
Menko Luhut menuturkan, jajaran kabinet telah diminta Presiden Jokowi untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya gelombang ketiga Covid-19.
Berbekal laporan tersebut, Wakil Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) itu pun akan memanfaatkan kondisi yang membaik saat ini untuk penanganan ke depan.
“Oleh karena itu, kita jangan cepat-cepat euforia terhadap kondisi ini, karena sangat mungkin terjadi hal-hal yang di luar dugaan kita. Karena masih banyak ketidaktahuan kita mengenai delta varian dan sebangsanya itu,” ujarnya.
Lebih lanjut, dia memohon kepada masyarakat agar tidak bereuforia atas capaian yang ada sehingga mengabaikan segala bentuk protokol kesehatan.
Menurut dia, apa yang dicapai kita bersama saat ini bukanlah bentuk euforia yang harus dirayakan.
“Kelengahan sekecil apapun yang kita lakukan ujungnya akan terjadi peningkatan kasus dalam beberapa minggu ke depan. Dan pastinya akan mengulang pengetatan-pengetatan yang kembali diberlakukan,” ujarnya.
Penulis: Ahmad Rahmansyah
Editor: Yos Casa Nova F




























