Kemenkop UKM Dorong Digitalisasi Warteg

Ilustrasi Warteg (foto: ist)

Jakarta, PONTAS.ID – Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) menggelar diskusi dengan perwakilan pengurus Komunitas Warung Tegal Nusantara (Kowantara) serta Paguyuban Pedagang Warung Tegal dan Kaki Lima se-Jakarta dan sekitarnya (Pandawakarta).

Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan UKM, Eddy Satriya, menegaskan bahwa warteg merupakan salah satu usaha rakyat yang menjadi fokus perhatian pemerintah. Data menjadi langkah pertama yang penting untuk mengukur kebutuhan pelaku usaha makanan tersebut.

“Jika data yang dibutuhkan terkait dengan jumlah warteg yang terdampak bisa dikumpulkan dengan cepat dan tepat, maka proses pemberian bantuan akan cepat disalurkan,” tutur Eddy, dalam siaran pers pada Selasa (26/1/2021).

Sementara itu, Puji Hartoyo, perwakilan dari Pandawakarta menyebutkan bahwa pendataan pelaku usaha penting, mengingat bahwa tidak semua pelaku usaha khususnya warteg memiliki kapasitas dan pendapatan yang sama.

“Tidak semua warteg atau pedagang kaki lima punya pendapatan dan kapasitas yang sama sehingga perlu didata,” ungkap Puji

Kemudian, Mukroni, Ketua Kowantara, menambahkan, di tengah pandemi ini banyak dari pelaku usaha warteg memilih kembali ke kampung halaman. Hal tersebut lantaran pendapatan yang terus menurun sejak pandemi.

Mukroni juga mengklarifikasi terkait informasi yang beredar bahwa ada 20.000 warteg gulung tikar. Angka tersebut, menurut Mukroni, tidak tepat. Oleh karenanya pendataan dirasa diperlukan bagi pelaku usaha warteg.

“Kurang dari separuh pedagang warteg memilih untuk pulang kampung karena pendapatannya terus menurun karena permintaan yang terbatas. Mereka rata-rata dari Tegal dan Brebes,” ujar Mukroni.

Meskipun demikian, para pelaku usaha warteg berharap pemerintah bisa turun tangan untuk mendata seluruh pelaku usaha warteg agar mendapatkan gambaran utuh kondisi sebenarnya.

Untuk mendata sebaran dan status warteg, Kemenkop UKM pun menggandeng penyedia platform digital antara lain Wahyoo.

CEO Wahyoo, Peter Shearer mengatakan, pihaknya selama ini membantu para pelaku usaha warung makan untuk bertransformasi ke ranah digital, meningkatkan standar protokol kesehatan, hingga membantu akses permodalan usaha.

“Bahkan, kita dorong mereka untuk bisa masuk ke platform seperti Gofood dan Grabfood, sampai di tahap kita berikan juga pelatihan serta strateginya,” kata Peter.

Selain pendataan, Kemenkop UKM juga mendorong kolaborasi seluruh stakeholder usaha warung makan dan kaki lima. Misalnya, peningkatan kemampuan SDM dan pemberdayaan pelaku usaha dapat difasilitasi lewat program bapak asuh yang melibatkan BUMN dan swasta atau menghubungkan dengan akses pasar dalam program sosial mobilisasi makan gratis yang dibiayai pemerintah/swasta.

Penulis: Stevanny

Editor: Riana

Previous articlePolres Tebing Tinggi Terus Galakkan Imbauan Prokes 3M
Next articleDPR Sarankan BI Punya Penilaian Kredibilitas