Ekonomi Terkontraksi, DPR: Bansos Sangat Vital untuk Bounce Back

Selly Andriany Gantina
Selly Andriany Gantina

Jakarta, PONTAS.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa Produk Domestik Bruto nasional di triwulan II 2020 mengalami kontraksi hingga minus 5,32%. Hasil itu disebut sebagai dampak dari berbagai variabel perubahan akibat Covid-19 yang melanda seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.

Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi VIII DPR, Selly Andriany Gantina menyebut rilis BPS tersebut adalah hasil dari kondisi transisi saat Covid melanda.

“Saya rasa kita perlu melihat rilis BPS kemarin dengan positif. Kontraksi ekonomi memang ada, terlebih riset dilakukan spesifik di triwulan kedua. Triwulan kedua kan masa transisi tuh, dimana-mana sedang PSBB dan pembatasan aktifitas ekonomi juga” ungkap Selly, Jumat (7/8/2020).

“Tapi secara positif harus kita lihat juga bahwa triwulan ketiga pasti akan ada kenaikan yang signifikan. Karena kebijakan New Habit yang berlaku, kemudian social safety nett yang dilepas ke masyarakat lewat berbagai skema. Hasilnya pasti bisa dongkrak (jumlah PDB secara nasional).” sambung Bekas Wakil Bupati Cirebon ini.

Selain itu, Selly juga menyebut Bantuan Sosial (Bansos) menjadi kebijakan unggulan akan menjadi penentuan bagi pertumbuhan ekonomi.

“Saya kira bansos bakal sangat vital untuk bounce back ekonomi kita. Pandemi ini kan yang terkontraksi paling utama itu ekonomi riil di keluarga. Tingkat konsumsi yang angkanya stabil tapi tingkat pendapatan riil tiap keluarga banyak yang turun. Bansos ini datang untuk isi gap (selisih) itu. Jadi ekonomi riil di tingkat keluarga terjaga,” kata Politisi PDI Perjuangan ini.

“Ini belum beberapa stimulus lagi dari Pemerintah. Ada yang untuk UMKM, ada yang untuk usaha mikro, untuk dunia digital. Bansos ini akan jadi faktor penentu. Untuk itu perlu dilanjut dengan perbaikan teknis sedikit-sedikit. Kita harus pastikan uang berputar di masyarakat secara riil,” tandasnya.

BPS sendiri menyebut bahwa triwulan kedua 2020 terjadi inflasi sebesar 0,32% yang berpengaruh terhadap turunnya jumlah PDB secara signifikan.

Penulis: Luki Herdian

Editor: Riana

Previous articlePemkot Jakpus dan FKUB Gelar Doa Bersama
Next articleDPR: Indonesia Sudah Memasuki Masa Resesi