Bekas Napi Buat Onar, Komisi III: Jangan Saling Menyalahkan

Herman Herry
Herman Herry

Jakarta, PONTAS.ID – Seorang pria bekas narapidana usai bebas dari penjara berbuat ulah dan harus berurusan dengan polisi, padahal pria tersebut baru saja bebas dari penjara karena program asimilasi rumah. Komisi III DPR RI minta agar tak ada saling menyalahkan karena kasus tersebut.

Ketua Komisi III DPR, Herman Herry menyebut kebijakan membebaskan narapidana umum di tengah wabah Corona sebetulnya bertujuan baik. Menurutnya, hal itu bertujuan untuk mengurangi dampak penyebaran virus Corona di dalam lapas.

“Kebijakan membebaskan napi pidana umum dengan persyaratan sesuai Permenkumham adalah bertujuan agar mengurangi dampak COVID di dalam lapas, sekaligus mengurangi over capacity, tentunya hal tersebut adalah kebijakan bertujuan baik,” kata Herman saat dihubungi, Kamis (9/4/2020).

Herman menilai dibalik kebijakan yang bertujuan baik, hasil dari kebijakan itu belum tentu seratus persen baik juga. Artinya, dalam membebaskan napi dengan syarat tidak ada yang menjamin semua napi yang bebas akan mematuhi persyaratan tersebut.

“Misalkan 30 ribu napi yang dibebaskan, tidak ada yang bisa menjamin 100% akan aman-aman saja alias tidak mengulangi kesalahan,” kata politikus PDIP tersebut.

“Apapun yang terjadi adalah bagian dari risiko sebuah kebijakan, tinggal semua pihak menghitung dampak manfaat dan mudarat bagi sebuah kepentingan yang lebih besar,” sambungnya.

Dia mengajak agar semua pihak menilai kebijakan dan dampaknya secara lebih arif dan bijaksana. Menurutnya, di tengah situasi negara yang sedang menghadapi pandemi Corona ini agar jangan saling menyalahkan.

“Jangan kita saling menyalahkan, apalagi saling mencari kesalahan. Polri sudah mengambil langkah-langkah penindakan sesuai tupoksinya dan menjamin keamanan kepada masyarakat sesuai Maklumat Kapolri,” katanya.

Tak Boleh Berkeliaran

Sementara itu, mendengar adanya aksi koboi dilakukan bekas napi di depok. Kementerian Hukum dan HAM menyayangkan hal itu. Padahal selama program asimilasi rumah, mereka tidak boleh berkeliaran kemana-mana.

“Jika itu benar, kami sangat menyayangkan sekali,” kata Kepala Biro Humas, Hukum dan Kerja Sama pada Unit Sekretariat Jenderal Kemenkumham, Bambang Wiyono.

Bambang menyebut selama di dalam lembaga pemasyarakatan (Lapas) para napi telah diberi bekal ketrampilan seperti perbengkelan, perikanan, dan perkebunan. Selain itu, kata dia, para napi juga ditanamkan nilai-nilai spiritual agar menjadi pribadi yang lebih baik.

“Sehingga diharapkan tidak melakukan tindak pidana lagi, ketika mereka pulang selama wabah COVID diminta untuk tetap di rumah dan tidak berkeliaran kemana-mana,” katanya.

Selain itu, Bambang menuturkan selama dalam asimilasi para napi tersebut tetap dalam pengawasan. Menurutnya, mereka tetap harus wajib lapor.

“Jika yang bersangkutan mengulang tindak pidana lagi perlu langkah hukum, dan perlu sanksi hukum yang lebih berat apalagi yang bersangkutan sebagai residivis,” katanya.

Seorang pria bernama Jame harus berurusan kembali dengan polisi karena mengamuk di sebuah warung di Cipayung, Depok. Padahal, Jame baru saja bebas dari penjara.

“Infonya baru keluar dari lapas 2 hari yang lalu karena kasus penyalahgunaan narkotika,” kata Kasubag Humas Polresta Depok AKP Firdaus dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (9/4/2020).

Peristiwa itu terjadi pada Rabu (8/4/2020) malam. Saat itu Jame mendatangi warung yang ada di sebelah korban di Ratujaya, CIpayung, Depok.

Penulis: Luki Herdian

Editor: Stevany

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here