Gawat! Jakarta Utara ‘Surga Prostitusi Anak’, Polisi Gencarkan Perburuan

Jakarta, PONTAS.ID – Usai melakukan pengrebekan Kafe Shantika, Kafe Melati dan Kafe Amor yang diduga melakukan eksploitasi atau memperkerjakan anak di bawah umur di Rawa Bebek, Penjaringan, Polres Metro Jakarta Utara bakal melakukan tindakan serupa di wilayah lain yang ada di Jakarta Utara.

“Ini merupakan tindakan percontohan dan peringatan buat lokasi lainnya. Kami akan melakukan tindakan serupa karena kita menginginkan penegakkan hukum sebagai panglima,” tegas Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Budi Herdi Susianto di Kantor Polres Metro Jakarta Utara, Jumat (31/1/2020).

Budi mengatakan, Polres Metro Jakarta Utara saat ini telah melakukan penyelidikan, pemetaan dan pendataan lokasi lain diwilayah Jakarta Utara. “Saat ini kami telah melakukan pemotretan lokasi dan pengintaian, setelah tiba waktunya nanti pasti akan dilakukan penindakan,” ujarnya.

Sebelumnya Polres Metro Jakarta Utara melakukan pengrebekan kafe di Jalan Suka Rela RT 08/10 No 12 Rawa Bebek atau biasa dikenal dengan sebutan Royal, Penjaringan pada Kamis 30 Januari 2020.

Pengrebekan berawal dari laporan warga sekitar bahwa ada tenpat penampungan pekerja seks komersial (PSK), kemudian team Resmob Polsek Penjaringan yang dipimpin oleh Kanit Reskrim Kompol Mustakim melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap dan mengamankan dua orang yang diduga pelaku dan 33 korban/saksi.

Saat ini Polres Metro Jakarta Utara telah menangkap dua tersangka Suh (33) dan Zul (23) serta menetapkan 5 DPO yang diantaranya KRM alias DA selaku pemilik kafe, AD sebagai kasir, MLT sebagai kasir, BDN dan MMN keduanya diduga sebagai makelar.

Budi menerangkan, dari keterangan para saksi modus operandi yang dilakukan tersangka BDN (DPO) dan tersangka MMN (DPO) para korban diiming-imingi sebuah pekerjaan sebagai pemandu karaoke dan asisten rumah tangga.

“Tersangka mendapat para korban untuk dijadikan PSK dari berbagai lintas wilayah seperti, Lampung dan Banten. Setelah para calon PSK menerima tawaran dari tersangka selanjutnya korban dibawa ke Mess penampungan sementara di Penjaringan milik tersangka KRM alias DA (DPO) untuk dikarantina sehingga para korban tidak bisa berkomunikasi kepada siapapun,” terang Kapolres.

Atas perbuatanya para tersangka dijerat pasal 76F Junto, pasal 83 junto, pasal 761 junto, pasal 88 UU RU No 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara junto pasal 2 ayat (1) dan (2) UU nomor 21 tahun 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

Penulis: Edi Prayitno
Editor: Pahala Simanjuntak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here